Harga Bitcoin Anjlok ke Level Terendah Jelang Siang Hari Ini

Share

Pasar kripto kembali berada di bawah tekanan besar setelah harga Bitcoin anjlok hingga menyentuh level terendah harian sebesar US$65.759,9 atau sekitar Rp1,17 miliar pada Rabu, 3 Juni 2026 jelang siang hari.

Pelemahan nilai aset digital berharga ini dilaporkan terjadi akibat kombinasi ketegangan geopolitik di Iran, penurunan minat terhadap aset berisiko, serta melemahnya permintaan institusional, dilansir dari BloombergTechnoz.

Hingga pukul 13.20 waktu Indonesia hari ini, pergerakan nilai Bitcoin masih mengalami penurunan sebesar 4,1 persen bila dibandingkan dengan posisi pada hari Selasa kemarin.

Catatan performa aset tersebut menunjukkan posisi bearish hingga 36 persen dibandingkan satu tahun lalu, dengan penurunan rentang harga yang nyaris menyentuh angka 50 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa pada Oktober 2025.

Kondisi pasar yang memburuk memicu penutupan paksa posisi leveraged atau likuidasi perdagangan kripto dengan nilai melebihi US$1 miliar dalam kurun waktu beberapa jam, yang menjadi catatan terbesar sejak Februari 2026.

Tekanan jual tambahan juga dipicu oleh aksi Strategy Inc. milik Michael Saylor yang melepas 32 Bitcoin senilai US$2,5 juta, serta arus penarikan dana keluar dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat yang mencapai hampir US$3,5 miliar selama 11 hari beruntun.

Ekonom Peter Schiff memberikan proyeksi mengenai masa depan pergerakan nilai aset digital ini melalui akun media sosial pribadinya.

"There is way too much complacency in Bitcoin for the market to be anywhere near a bottom. When Bitcoin breaks $50K, it should be a quick fall below $20K, which should be a big enough drop to shake the conviction of long-term HODLers, causing many to finally throw in the towel." tulis Peter Schiff, Ekonom.

Kekhawatiran pasar semakin diperparah oleh adanya lonjakan inflasi global dan ketidakpastian penyelesaian ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di seputar Selat Hormuz.

Situasi makroekonomi ini membuat para pelaku pasar kini lebih menilai aset digital tersebut sebagai instrumen yang memiliki risiko tinggi dibandingkan sebagai alat lindung nilai inflasi.

"Jika Anda menambahkan Bitcoin ke portofolio Anda dengan berpikir itu adalah lindung nilai inflasi jangka pendek, saya pikir Anda perlu mengevaluasinya kembali. Tingkat ketidakpastiannya sangat tinggi, yang berpotensi menyebabkan kekecewaan," ungkap Cam Harvey, direktur riset di Research Affiliates, yang juga profesor keuangan di Duke University.

Berdasarkan data BeinCrypto, total likuidasi di pasar derivatif menyentuh US$1,64 miliar dalam 24 jam terakhir yang didominasi oleh posisi beli, sehingga membuat kapitalisasi pasar kripto menyusut ke angka US$2,26 triliun.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author