Kemenkeu Terapkan Tiga Strategi Fiskal Jaga Pertumbuhan Ekonomi
Pemerintah secara konsisten menerapkan tiga strategi utama demi mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional serta kesejahteraan masyarakat. Kebijakan ini diambil untuk menghadapi situasi ketidakpastian ekonomi global yang terjadi saat ini.
Langkah strategis tersebut dipaparkan oleh Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor (IPB). Informasi mengenai kebijakan fiskal ini dikutip dari Bloomberg Technoz pada Selasa (2/6/2026).
Pengendalian belanja negara menjadi strategi fiskal pertama yang dijalankan pemerintah. Fokus utamanya adalah mempertahankan daya beli masyarakat serta mengendalikan laju inflasi. Hal ini dilakukan dengan mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi melalui peningkatan alokasi anggaran subsidi.
"Program Makan Bergizi Gratis juga diefisiensikan dengan pengurangan di hari Sabtu. Di saat yang sama, belanja negara difokuskan pada sektor produktif untuk mendorong pertumbuhan, memacu produksi, dan menciptakan lapangan kerja baru," kata Juda Agung.
Menurut penuturan Juda Agung, pemerintah berkomitmen mengarahkan kembali skala prioritas belanja negara. Kebijakan anggaran ini didorong untuk memacu permintaan, memperkuat suplai, meningkatkan produksi, hingga membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
Optimalisasi penerimaan negara menjadi pilar strategi fiskal yang kedua. Pemerintah memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas global secara maksimal. Selain itu, penggalian potensi pajak kini diperkuat lewat penerapan sistem Coretax.
Strategi ketiga berfokus pada pengelolaan pembiayaan negara untuk menekan ketergantungan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Pemerintah mengarahkan pembiayaan melalui penerbitan surat utang menggunakan mata uang non-dolar AS yang menawarkan tingkat bunga kompetitif.
Beberapa instrumen utang yang diterbitkan meliputi Samurai bonds dengan denominasi Yen Jepang (JPY), Dim Sum bonds menggunakan mata uang Renminbi, serta Kangaroo bonds yang berbasis Dolar Australia.
Keberhasilan bauran strategi fiskal tersebut sudah terlihat pada performa ekonomi kuartal 1 2026 yang mampu tumbuh sebesar 5,61%. Laju inflasi nasional juga berada di posisi yang aman pada level 2,42%, dengan defisit fiskal terkendali di angka 0,64% per April 2026, serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang terjaga.
Daya tahan ekonomi Indonesia dinilai cukup kuat dalam meredam dampak risiko global yang dipicu oleh perang tarif dan dinamika geopolitik. Kemampuan mitigasi risiko ini didukung oleh kombinasi eksekusi strategi fiskal yang tepat serta pengelolaan bauran energi nasional yang berjalan dengan baik.
“Kita menghasilkan minyak, gas, biodiesel, bioenergi, batubara. Jadi energi mix kita lebih baik sehingga kita masih mempunyai daya tahan yang baik terhadap harga minyak yang meroket di global,” ungkap Juda.