Perang Iran Dongkrak Harga BBM di Amerika Serikat hingga Membeludak

Share

Lonjakan harga bahan bakar minyak akibat perang yang berlangsung di Iran memicu lonjakan permintaan bensin murah secara drastis di berbagai SPBU Amerika Serikat hingga akhir Mei 2026.

Kondisi tersebut memaksa jaringan ritel besar seperti Costco Wholesale dan Walmart mengalami lonjakan kunjungan dari konsumen yang ingin menghemat pengeluaran bensin mereka.

Rata-rata harga bensin reguler di Amerika Serikat menyentuh 4,39 dolar AS per galon menurut data AAA pada Kamis, yang mencerminkan kenaikan sebesar 1,22 dolar AS dari tahun lalu.

Direktur Eksekutif Costco Roland Vachris mengungkapkan bahwa perusahaan belum pernah melihat permintaan bensin sebesar ini sepanjang sejarah, sehingga beberapa stasiun pengisian harus mendatangkan truk tangki beberapa kali sehari.

"We believe this will drive even greater loyalty with these members in the future as members who use our gas stations typically spend more with us in the warehouse," kata Costco CEO Roland Vachris.

Pihak manajemen menjelaskan bahwa para pelanggan merasa tertekan secara finansial karena harus mengalokasikan persentase gaji yang lebih besar untuk membeli bahan bakar.

Meskipun Costco menjual bensin dengan margin keuntungan yang sangat tipis, strategi ini berhasil meningkatkan volume kunjungan ke dalam gudang belanja mereka sekitar 5 persen.

Direktur Keuangan Costco Gary Millerchip menambahkan bahwa kenaikan harga minyak global ini juga mulai merembes pada biaya bahan baku lain seperti resin plastik.

"A lot of members are increasing their frequency of visiting the gas station to top up in between what would have normally been a gap between getting the tank to empty because of the concern about what might the gas price be tomorrow," ujar Gary Millerchip, Costco's finance chief.

Langkah ini diambil oleh konsumen karena kekhawatiran yang tinggi mengenai pergerakan harga komoditas energi pada hari berikutnya.

Costco memanfaatkan momentum penambahan trafik jalan ini dengan memotong harga bahan pangan pokok di area belakang toko demi menjaga loyalitas konsumen dalam jangka panjang.

"We saw it as an opportunity, recognizing that our members were dealing with higher gas prices, to really invest in increasing value to the member," tutur Gary Millerchip.

Di sisi lain,

"Over time, it's a great way to build loyalty," kata Millerchip.

Di sisi lain,

"We do think it's a good, healthy barometer of long-term growth for the business," tambah Millerchip.

Fenomena tekanan ekonomi ini juga dikonfirmasi oleh kompetitor retail lainnya, Walmart, yang mendeteksi perubahan perilaku belanja masif pada kelompok konsumen berpendapatan rendah.

Direktur Keuangan Walmart John David Rainey menyatakan bahwa konsumen di SPBU mereka kini mulai mengisi bensin dengan volume di bawah sepuluh galon per kunjungan.

"That's an indication of stress," kata Chief Financial Officer John David Rainey.

Perilaku hemat ini menjadi indikator nyata dari tekanan anggaran yang dialami oleh rumah tangga kelas pekerja di Amerika Serikat.

"We see with our customers that the high-income customer is spending with confidence," tambah Rainey later, "while the lower-income consumer is more budget-conscious and perhaps navigating financial distress."

Perubahan tren belanja ini turut dirasakan oleh jaringan SPBU diskon Murphy USA yang mencatat kembalinya pelanggan lama demi mencari harga ekonomis.

"We're also seeing lapsed customers returning to our stores," kata CEO Mindy West.

Konsumen secara sadar mengubah preferensi mereka menjadi pemburu nilai barang yang lebih murah akibat tekanan eksternal pasokan minyak.

"They're changing their behavior and becoming more value-seeking shoppers," lanjut West.

Kondisi pasar energi diprediksi bisa semakin memburuk dalam beberapa minggu ke depan akibat pemblokiran jalur pengiriman kapal tanker di Selat Hormuz dekat Iran.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author