BMKG Deteksi Ribuan Titik Panas di Kalimantan Akibat Karhutla
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan puluhan ribu titik panas tersebar di Kalimantan sebagai indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meningkat, terutama pada 20 Agustus 2026.
BMKG mencatat 1.106 titik panas yang tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menunjukkan 1.487 titik panas berdasarkan pantauan satelit NOAA-20, dengan konsentrasi tertinggi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Kondisi kering akibat El Niño dan musim kemarau memperparah risiko karhutla, yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September, khususnya di Kalimantan Barat dan Tengah, menurut BMKG.
Warganet di media sosial ramai membicarakan kondisi ini, mengunggah foto dan video yang memperlihatkan tebalnya asap di berbagai wilayah Kalimantan.
"Entah Kalimantan dibakar atau terbakar, yang pasti jutaan hewan jadi korban, jutaan pohon hangus terbakar, jutaan bayi dan manusia sesak nafas menghirup asap," ujar @rebukanrain.
Unggahan lain menyampaikan keprihatinan atas dampak kesehatan akibat asap tebal, terutama bagi bayi dan anak-anak.
"Nggak sanggup bayangin jutaan bayi, anak dan manusia di Kalimantan harus sesak napas, hari-hari hidup di tengah asap tebal," kata @assertndayy.
Dampak kabut asap terlihat nyata di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dengan Air Quality Index (AQI) mencapai 487 pada 19 Agustus 2026, masuk kategori berbahaya.
Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, konsentrasi partikel PM2.5 juga sangat tinggi, mencapai 389,4 mikrogram per meter kubik pada pagi hari yang sama, menurut data BMKG.
Partikel PM2.5 berbahaya karena ukurannya kecil dan dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, mengancam kesehatan anak-anak, lansia, dan mereka yang memiliki gangguan pernapasan.