Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat Usai Isu Rudal dan Pemutusan Hubungan
Eskalasi militer di Timur Tengah kembali memanas setelah Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab mendeteksi dua rudal balistik meluncur dari Iran dan jatuh di area Teluk Persia pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Satu proyektil mendarat di dalam batas perairan teritorial Uni Emirat Arab, sedangkan proyektil kedua jatuh di luar wilayah negara tersebut. Insiden itu terjadi persis saat masa pembicaraan damai dua bulan antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa terobosan.
Merespons kejadian tersebut, Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab langsung mengambil tindakan tegas berupa penghentian seluruh aktivitas perdagangan dan transaksi keuangan dengan Teheran.
"Mengingat eskalasi regional yang merusak perdamaian dan keamanan regional serta internasional, semua kegiatan, pertukaran perdagangan, dan transaksi keuangan dengan Iran telah ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut," tegas Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab.
Di sisi lain, Pemerintah Iran membantah keras tuduhan penembakan rudal balistik tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengklaim tudingan Abu Dhabi berpotensi merusak kepercayaan diplomatik kawasan.
Baqaei menegaskan bahwa tuduhan tersebut merusak kepercayaan di tingkat kawasan, sebagaimana dilansir Sweden Herald. Media pemerintah Iran, Press TV, justru menyebut rentetan insiden ini memiliki ciri khas sebagai operasi bendera palsu yang didalangi Israel.
Pihak militer Uni Emirat Arab menegaskan kesiapan penuh dalam menjaga kedaulatan wilayahnya dari berbagai ancaman keamanan maritim.
"Serta menindak tegas segala upaya yang merusak keamanan negara," tulis Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa tidak ada dialog yang sedang berjalan atau dijadwalkan dengan pihak Iran pasca-kedaluwarsanya tenggat diplomasi.
"Blokade Angkatan Laut tetap berlaku penuh dan efektif. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau air telah disingkirkan atau diledakkan," ungkap Trump melalui platform Truth Social.
Trump juga membagikan peta kawasan yang diberi label klaim baru kepemilikan wilayah.
"Wilayah baru Amerika Serikat," bunyi tulisan itu.
Pernyataan Trump tersebut langsung menuai kecaman dari pihak Teheran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memberikan respons menohok atas klaim sepihak Washington.
"Sebagaimana Trump dengan tepat menulis nama Teluk Persia yang abadi, segera khayalannya mengenai Selat Hormuz akan dikoreksi, atau kami yang akan mengoreksi khayalan orang yang berkhayal ini," tulis Gharibabadi di X.
Dampak konflik ini menyebabkan penurunan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz hingga 19,5 persen dalam sepekan terakhir menurut data platform Kpler. Bahkan, Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal dihantam proyektil tak dikenal di dekat Oman hingga merusak ruang mesin dan memakan korban jiwa.
Data Kpler menunjukkan lebih dari 80 persen kapal kini memilih melintasi jalur Oman di bawah pengawalan Angkatan Laut Amerika Serikat ketimbang rute utara yang diklaim Iran.
"Situasi ini semakin menunjukkan bahwa Iran setidaknya telah kehilangan sebagian kendali atas selat tersebut," ujar Homayoun Falakshahi, kepala analisis minyak mentah di Kpler.
Di tengah ketegangan yang merembet hingga serangan drone Houthi ke fasilitas Saudi Aramco, Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan terus berupaya mendorong dialog lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran melalui perantara Oman demi menstabilkan kawasan.