Utang Nasional Amerika Serikat Tembus 40 Triliun Dolar
Departemen Keuangan Amerika Serikat mencatat utang nasional negara tersebut melampaui 40 triliun dolar AS pada Selasa (18/8/2026), membengkak lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu satu dekade. Lonjakan lonjakan utang yang melebihi proyeksi Kantor Anggaran Kongres (CBO) sebesar 39,6 triliun dolar AS ini didorong oleh pengeluaran besar-besaran di era pemerintahan Donald Trump dan Joe Biden, serta beban bunga pinjaman yang terus meningkat. CBO memperkirakan total utang AS berisiko melonjak hingga 64 triliun dolar AS pada 2036 mendatang, seiring batas utang federasi yang kini mendekati plafon 41,1 triliun dolar AS.
Sebagai dampak peningkatan defisit anggaran pemerintah federal, imbal hasil obligasi tenor 30 tahun sempat menyentuh angka 5,34 persen pada Selasa, melambung ke level tertinggi dalam hampir 20 tahun terakhir.
Guna meredam kenaikan biaya pinjaman jangka panjang, Departemen Keuangan AS melipatgandakan nilai operasi pembelian kembali obligasi menjadi setidaknya 4 miliar dolar AS per minggu mulai 9 September hingga 4 November. John Canavan, analis utama di Oxford Economics, menilai langkah Departemen Keuangan tersebut sebagai respons atas tekanan ekonomi yang intensif.
"Upaya untuk memberikan relief" pada biaya pinjaman jangka panjang dilakukan di tengah "tekanan signifikan dari kenaikan harga minyak, risiko inflasi, dan pasokan yang berat akibat kebutuhan pinjaman berdaulat serta korporasi global," kata John Canavan, analis utama Oxford Economics. Kendati demikian, Canavan menambahkan bahwa program pembelian kembali tersebut tidak akan memberikan solusi jangka panjang yang memadai.
"Tidak mungkin memberikan bantuan jangka panjang yang berarti," kata John Canavan, analis utama Oxford Economics. Di sisi lain, analis senior DZ Bank di Jerman, Rene Albrecht, menyoroti kekhawatiran pemerintah terkait lonjakan imbal hasil yang tinggi di tengah agenda politik nasional. "Rasa sakit akibat imbal hasil 5% atau lebih tinggi" dihindari pemerintah karena berisiko membebani sektor swasta dan publik, ujar Rene Albrecht, analis senior DZ Bank.
Albrecht menekankan bahwa penyesuaian kebijakan ini diambil menjelang momentum politik penting.
"Hanya tersisa tiga bulan menuju pemilihan paruh waktu," kata Rene Albrecht, analis senior DZ Bank. Albrecht menambahkan bahwa pihak berwenang berupaya menahan tren kenaikan tersebut. "Merek [Departemen Keuangan] harus meraih alat kerja agar dapat mengendalikan kenaikan imbal hasil baru-baru ini," kata Rene Albrecht, analis senior DZ Bank.
Ekonom Mohamed A. El-Erian menyampaikan pandangannya terkait potensi langkah lanjutan dari otoritas terkait strategi tingkat suku bunga.
El-Erian menilai intervensi yang dilakukan mengarah pada skenario kontrol kurva imbal hasil untuk mengendalikan biaya pinjaman. "Bisa membantu menurunkan imbal hasil jangka panjang dalam jangka pendek," kata Mohamed A. El-Erian, ekonom.
Namun, El-Erian mengingatkan adanya risiko sistemis dari kebijakan tersebut. "Itu berisiko menimbulkan kerusakan kolateral dan konsekuensi yang tidak disengaja," kata Mohamed A. El-Erian, ekonom.
Risalah rapat Federal Reserve yang dirilis Rabu menunjukkan kekhawatiran mendalam para pembuat kebijakan terhadap laju inflasi, dengan indikasi bahwa kenaikan suku bunga dapat kembali dilakukan jika inflasi tidak kunjung mereda menuju target 2 persen.