Bencana Gempa NTT Menelan 70 Korban Jiwa dan Puluhan Ribu Pengungsi

Share

Sebanyak 70 orang dilaporkan meninggal dunia dan 40.040 warga terpaksa mengungsi akibat gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur pada Selasa (18/8/2026). Sebagaimana dilansir dari Detikcom, puluhan ribu warga yang mengungsi tersebut didominasi oleh masyarakat dari Kabupaten Manggarai Timur.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat pengungsi terbanyak berada di Manggarai Timur dengan total 15.465 jiwa, terdiri atas 966 orang di posko BPBD dan 14 ribu warga mengungsi mandiri. Di wilayah ini, tercatat 25 korban tewas, 442 luka berat, serta 513 luka ringan.

Posisi kedua pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Manggarai sejumlah 6.487 jiwa, dengan korban jiwa 27 orang, 31 luka berat, serta 88 luka ringan. Kerusakan bangunan mencapai 11.925 unit rumah, mencakup 5.516 rusak berat, 1.916 rusak sedang, dan 4.493 rusak ringan, dengan tingkat kerusakan tertinggi berada di Nagekeo, Manggarai Barat, dan Ngada.

"Data sementara pengungsi yang sementara ini kami kumpulkan, ada 40.040 jiwa, ini bukan menggambarkan kerusakan rumah, jadi perlu kita hati-hati menerjemahkannya, namun ini karena dampak psikologis yang dirasakan warga," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.

Kerusakan infrastruktur rumah warga dilaporkan tersebar di berbagai wilayah dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

"Total rumah yang rusak sebanyak 11.925 unit, dengan rincian rusak berat sebanyak 5.516 unit, rusak sedang sebanyak 1.916 unit, rusak ringan 4.493 unit," kata Berton.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan mengonfirmasi total korban terdampak mencapai 202 orang, terdiri dari 70 orang tewas dan 132 orang luka-luka (40 luka berat dan 92 luka ringan). Operasi di lapangan kini berfokus pada penyisiran serta bantuan pemulihan medis di daerah terpencil seperti Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur.

"Sampai dengan hari ketiga kemarin, pukul 23.30 WIB, telah kami kompulir, total korban adalah 202 orang, meninggal dunia 70 orang dan luka-luka 132 orang," kata Direktur Operasi Basarnas, Laksma TNI Yudhi Bramantyo.

Pihak pencarian memastikan bahwa tidak ada lagi laporan warga yang hilang di lokasi kejadian.

"Operasi yang kita lakukan hanya tinggal penyisiran karena berdasarkan laporan atau masukan data dari para korban tidak ada lagi saudara-saudara mereka, tetangga, rekan yang tercatat masih dalam pencarian," ujar dia.

Pemerintah pusat saat ini merencanakan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke lokasi bencana, sembari memprioritaskan penanganan darurat di lapangan.

"Sedang direncanakan. Sedang direncanakan, tetapi perlu juga kami sampaikan bahwa kadang-kadang memang di masa-masa awal itu kondisi di lapangan bukan kita memilih untuk lebih fokus mengatasi masalah terlebih dahulu," kata Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi.

Kunjungan kepala negara memerlukan penyesuaian sarana teknis yang matang di wilayah terdampak.

"Karena kehadiran seorang Presiden tentu membutuhkan persiapan dan sarana-sarana yang tidak seperti kunjungan biasa," sambungnya.

Pemerintah terus memantau penanganan bencana dan menerima laporan rutin dari Basarnas, BNPB, serta bantuan solidaritas dari berbagai pemerintah daerah.

"Jadi yang penting adalah kami setiap hari memonitor, ya, para menteri juga melaporkan, Kepala Basarnas setiap hari laporan kepada kami, kemudian BNPB juga laporan dan kami juga mengapresiasi karena banyak pemerintah provinsi, pemerintah daerah yang lain juga mengirimkan bantuan-bantuan, termasuk misalnya seperti dari Pemprov Jawa Tengah. Ini bukti solidaritas kita bersama-sama untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah," jelasnya.

Sektor energi di NTT yang sempat lumpuh pascagempa kini berangsur membaik melalui perbaikan gardu induk dan jaringan listrik oleh petugas penanganan.

"Perlahan-lahan sudah mulai ada perbaikan, termasuk juga listrik. Awalnya banyak daerah yang kena itu mati lampu, sekarang perlahan-lahan sudah bisa kita selesaikan," kata Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

Proses pemulihan distribusi energi ke tiap lokasi masih terus diupayakan secara intensif oleh pihak Pertamina dan PLN.

"Sudah barang tentu belum 100% karena gardu induknya itu sudah nyala tapi untuk suplai ke lokasinya itu yang membutuhkan beberapa waktu lagi sedikit. Tapi kita akan bekerja keras terus, Dirut Pertamina sama PLN kemarin masih berada di lokasi bencana dan kita sangat serius ya," ungkapnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author