IHSG Ditutup Menguat ke 6.449 Meski Bayang Prospek Profit Taking

Share

Laju Indeks Harga Saham Gabungan ditutup menguat 47,94 poin atau 0,75 persen ke posisi 6.449,83 pada Selasa (18/8/2026). Pergerakan positif indeks terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah serta koreksi bursa global dan regional Asia.

Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia mencatatkan volume transaksi sebesar 33,66 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp14,83 triliun. Sebanyak 399 saham tercatat menguat, 236 saham mengalami penurunan, dan 159 saham bergerak stagnan.

Sektor energi menjadi pendorong utama laju IHSG setelah melonjak 7,10 persen. Kenaikan tersebut terutama disokong oleh lonjakan saham PT Bayan Resources Tbk sekitar 20 persen akibat isu akuisisi, serta penguatan saham BRMS dan EMAS.

Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memberikan analisis mengenai pemicu utama pergerakan indeks saham domestik pada perdagangan hari ini.

"Penguatan IHSG didorong oleh emiten-emiten konglomerasi," ujar Herditya.

Di sisi lain, pergerakan indeks pada perdagangan Rabu (19/8/2026) diperkirakan mulai menghadapi tekanan koreksi teknikal. Para pelaku pasar memilih bersikap hati-hati memantau agenda ekonomi dari otoritas moneter dalam dan luar negeri.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyampaikan pandangannya mengenai proyeksi teknikal pergerakan indeks saham.

"Apabila IHSG mampu bertahan di atas 6.377, penguatan berpotensi berlanjut menuju 6.454, kemudian 6.500-6.600 sebagai resistance berikutnya," ujar Liza.

Pasar kini memusatkan perhatian pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 18–19 Agustus 2026. Konsensus pasar memproyeksikan BI akan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen.

Liza menambahkan bahwa pelaku pasar global juga menantikan rilis risalah rapat Federal Open Market Committee bulan Juli 2026 guna memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed pada September mendatang.

"Risalah FOMC Juli akan menjadi perhatian utama untuk melihat arah kebijakan moneter berikutnya," kata Liza.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai secara teknikal indeks membentuk pola yang mengindikasikan ruang penguatan terbatas dan berpotensi konsolidasi di area batas atas.

"Ini menunjukkan adanya potensi profit taking di sekitar resistance, sehingga penguatan kemungkinan masih terbatas dan pasar cenderung konsolidasi terlebih dahulu," katanya.

Reza merekomendasikan opsi beli untuk saham EMTK dengan target harga Rp530-Rp550, ADRO di Rp2.600-Rp2.700, serta BWPT di kisaran Rp97-Rp100 per saham. Sementara itu, Herditya merekomendasikan saham BRMS, PGEO, dan TAPG.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: ekonomi indonesia ihsg saham
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author