Como 1907 Cetak Sejarah Lolos ke Liga Champions
Como 1907 mencatatkan sejarah baru dengan memastikan tempat di Liga Champions musim depan. Kepastian ini didapat setelah mereka mengakhiri kompetisi Serie A Liga Italia 2025/2026 di peringkat keempat, seperti dikutip dari Bola.
Klub berjuluk I Lariani ini sebenarnya memiliki sejarah panjang sejak berdiri pada 1907. Mereka pernah mencicipi kasta tertinggi Italia pada musim 1949/1950 sebelum akhirnya terdegradasi dalam kurun waktu yang sangat lama.
Titik balik klub terjadi saat Grup Djarum mengambil alih kepemilikan Como 1907 pada 2019. Sejak akuisisi tersebut, performa tim perlahan bangkit hingga berhasil kembali promosi ke Serie A pada musim 2024/2025.
Hanya dalam waktu dua tahun setelah promosi, tim asuhan Cesc Fabregas ini langsung melompat ke kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa. Keberhasilan ini berdampak besar bagi wilayah Lombardia, Italia Utara.
Sektor pariwisata di daerah sekitar danau tersebut kini semakin bergeliat seiring meningkatnya kunjungan wisatawan. Peningkatan ekonomi lokal juga didorong oleh penjualan merchandise resmi klub yang semakin diminati.
Kehadiran Como 1907 di Liga Champions diprediksi membuat atmosfer kota menjadi lebih semarak. Kondisi ini mulai menyamai kota-kota sepak bola mapan lainnya di Italia seperti Napoli, Roma, Turin, dan Milan.
El Presidente Como 1907, Mirwan Suwarso, menjelaskan tantangan awal klub saat pertama kali diambil alih pada 2019. Mayoritas warga lokal saat itu lebih memilih menjadi pendukung Inter Milan atau AC Milan.
Faktor kedekatan geografis yang hanya berjarak setengah jam menjadi penyebab utama minimnya basis penggemar lokal. Situasi tersebut menyulitkan manajemen untuk mendapatkan pemasukan dari sektor suporter.
"Waktu kami takeover di Divisi 4 juga sudah menjadi fans Inter Milan atau AC Milan yang jaraknya hanya setengah jam dari Como. Sehingga, untuk kita mencoba mencari pemasukan susah dong, karena kita enggak punya fans," kata Mirwan.
"Jadi yang lebih mudah, ya kami menggunakan apa yang paling terkenal, yaitu nama danaunya sendiri. Lake Como itu," imbuh Mirwan.
Langkah strategis diambil dengan menggeser fokus awal pada pengembangan industri wisata dan sports tourism. Manajemen membangun ekosistem retail dan pariwisata terlebih dahulu sambil menunggu performa tim sepak bola meningkat.
"Jadi bisnis kami awalnya fokusnya di situ dulu, karena kami memang mencoba mengembangkan industri turisme, sports tourism. Perlahan sepak bolanya naik. Sambil menunggu sepak bolanya naik, ekosistem tourism dan retail-nya sudah kami bangun duluan," ujar Mirwan.
"Orang lalu bilang kita ngebangun kota. Sebenarnya kita ngebangun ekosistem, sports tourism, seputar usaha kita."
Pembangunan ekosistem ini membutuhkan keterlibatan aktif dari berbagai pihak. Manajemen Como 1907 menjalin kerja sama erat dengan pemerintah daerah, warga setempat, serta komunitas lokal.
"Namanya juga ekosistem, berarti orang-orangnya juga harus terlibat ya, warganya harus terlibat dan harus mendukung kita. Jadi kita bekerja sama dengan pemerintah setempat dan juga sama warga setempat, termasuk komunitas-komunitas juga," tutur Mirwan.
Pertumbuhan Akomodasi Mewah di Kawasan Como
Mengenai keberhasilan strategi tersebut, Mirwan menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada publik. Ia menilai indikator keberhasilan bersifat subjektif, namun dukungan terhadap kegiatan klub terus mengalir.
"Dibilang berhasil atau tidak, itu subyektif ya. Namun, yang pasti, kalau kami melakukan kegiatan banyak yang mau mendukung," tandasnya.
"Turis datang ke Como pasti tentunya bukan hanya karena kita ya. George Cloney juga menjadi salah satu mercusuar terbesar buat Como mendatangkan banyak warga Amerika."
Dampak ekonomi dari popularitas kawasan ini terlihat nyata dari masifnya pembangunan hotel mewah dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, akomodasi bintang atas di wilayah tersebut hanya didominasi oleh Hilton dan Tremezzo.
Saat ini, sejumlah jaringan hotel internasional mulai membuka cabang baru di Como. Beberapa di antaranya meliputi rencana pembukaan Ritz-Carlton, Belmond oleh LVMH, The Westin, serta The Edition yang baru saja beroperasi.
"Dalam dua atau tiga tahun terakhir ini jumlah hotel mewah yang dibuka di sini makin banyak. Dulu cuma mungkin ada Hilton sama Tremetso, dan ada beberapa hotel lainnya," kata Mirwan.
"Sekarang Ritz-Carlton baru baru mau buka. LVMH mau buka Belmond. The Westin mau buka juga. Terus The Edition baru buka. Ada lima hotel mewah bintang enam ya di sini," ujar Mirwan.