Anggota Kongres AS Tuntut Penyelidikan Kondisi Kapal Induk USS Lincoln
Sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat mendesak penyelidikan menyeluruh terhadap kondisi operasional di atas kapal induk USS Abraham Lincoln. Langkah ini diambil menyusul laporan krisis kesehatan mental dan kelangkaan pasokan kebutuhan dasar selama penugasan di kawasan Timur Tengah, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Kamis (13/8/2026).
Masa tugas kapal perang tersebut telah melampaui 250 hari dengan rentang waktu lebih dari 200 hari berlayar secara terus-menerus tanpa pernah berlabuh. Catatan durasi ini sekaligus memecahkan rekor operasi nonstop terlama di laut bagi armada militer AS.
Senator Richard Blumenthal melayangkan surat resmi kepada Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Rabu (12/8) guna meminta penjelasan rinci dari pihak Angkatan Laut. Blumenthal menyoroti penurunan kualitas fasilitas hidup para personel di atas kapal.
"Laporan luas tentang kekurangan pasokan kebutuhan dasar, kontaminasi air, masalah pipa, memburuknya kesehatan mental, masalah keselamatan dek dan masalah lain di atas Lincoln," kata Blumenthal, Senator Partai Demokrat.
Kondisi yang memburuk tersebut memicu desakan dari parlemen untuk mengirimkan tim pemantau independen guna melihat situasi secara langsung.
Melalui unggahan di media sosial X pada hari Rabu (12/8), Senator Ruben Gallego menyerukan "kunjungan pengawasan resmi dengan Delegasi Senat bipartisan ke USS Lincoln untuk menyelidiki kondisi mengkhawatirkan yang dilaporkan."
Gallego menambahkan bahwa pengerahan prajurit yang terlampau lama berdampak fatal pada kondisi psikologis para awak kapal.
"Kisah-kisah para awak kapal yang mengancam akan melompat dari kapal merupakan peringatan yang menakutkan tentang betapa buruknya situasi yang terjadi: kamar mandi berjamur, air panas yang tidak stabil, makanan dan sabun yang dijatah, toilet yang rusak, dan shift kerja yang melelahkan selama 12 hingga 16 jam tanpa hari libur," kata Gallego, Senator Partai Demokrat.
Ia juga mengecam kebijakan kepemimpinan nasional terkait pengerahan militer tersebut.
"Cara (Presiden AS Donald Trump) memperlakukan anggota militer kita saat ia menjalankan perang ilegal ini bukan hanya menjijikkan, tetapi juga berbahaya," kata Gallego, Senator Partai Demokrat.
Kapal induk USS Abraham Lincoln awalnya bertolak dari San Diego, California, pada 21 November 2025 menuju Laut China Selatan sebelum akhirnya dialihkan ke Timur Tengah guna mendukung konfrontasi militer terhadap Iran sejak 28 Februari.
Aspirasi dan keresahan atas kondisi 5.000 pelaut serta Marinir di atas kapal juga disuarakan oleh pihak keluarga. Laporan MSNOW mencatat adanya ketegangan antara keluarga prajurit dan pimpinan Angkatan Laut mengenai ketidakpastian jadwal kepulangan serta jatah logistik yang terbatas.
Selain itu, kantor berita Iran Tasnim News Agency melaporkan terjadinya insiden bentrokan fisik di atas kapal yang dipicu oleh kekecewaan personel terhadap masa penugasan. Peristiwa konfrontasi internal tersebut dilaporkan mengakibatkan sedikitnya tujuh personel militer AS tewas. Hingga saat ini, pihak Angkatan Laut AS belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait laporan tersebut.