RS Tindak Nakes Penghina Pasien BPJS Pahami Analisis Psikologinya

Share

Sejumlah tenaga kesehatan dan dokter menerima sanksi tegas dari instansi tempat mereka bekerja usai menuliskan komentar jahat terhadap seorang pasien BPJS di media sosial, seperti dilansir dari Detikcom. Sanksi yang dijatuhkan meliputi penghentian izin praktik hingga proses pemeriksaan pelanggaran kode etik profesi. Peristiwa ini bermula ketika pasien bernama Yurizal mengungkapkan keluhannya di media sosial karena tak kunjung mendapatkan ruang perawatan setelah menunggu selama delapan jam di rumah sakit.

Bukannya memperoleh penjelasan medis, keluhan pasien justru direspons negatif oleh beberapa oknum tenaga kesehatan.

Bahkan, salah satu komentar menyarankan pasien pindah ke ruang jenazah yang sedang kosong. Beberapa hari setelah unggahan tersebut tular, pasien tersebut dilaporkan meninggal dunia.

Aksi perundungan digital ini memicu keprihatinan publik mengenai alasan orang begitu mudah melontarkan kalimat kasar di platform daring. Profesor Madya Psikologi Forensik Universitas Gloucestershire Inggris, Dr Amy Grubb, menjelaskan bahwa fenomena komentar jahat di internet dipicu oleh latar belakang psikologis yang kompleks.

Menurut Grubb, keberanian melontarkan hinaan daring muncul akibat lemahnya isyarat sosial serta minimnya interaksi tatap muka. Kondisi ini mendorong seseorang melakukan serangan pribadi, celaan, ejekan, maupun ucapan provokatif. Lemahnya pemahaman interaksi membuat pelaku tidak mampu memvisualisasikan perasaan korban atas tindakan mereka.

Sifat media sosial yang anonim juga memberi kebebasan bagi penggunanya untuk berbuat jahat tanpa takut identitasnya terungkap.

Grubb membeberkan mekanisme hilangnya kontrol emosi para pelaku perundungan di jejaring sosial. "Orang yang memposting komentar tidak melihat dampak emosional pada penerima yang dituju dan oleh karena itu tidak menerima umpan balik secara langsung mengenai bagaimana pesan tersebut dapat memengaruhi perasaan penerima, seperti ekspresi wajah atau bahasa tubuh, sehingga tidak ada konsekuensi negatif atas perilaku tersebut," kata Dr Grubb. Studi psikologi juga menunjukkan bahwa individu yang gemar berkomentar jahat umumnya memiliki dorongan agresif bawaan dan tingkat empati yang sangat rendah.

Kecenderungan Merendahkan Martabat Orang Lain

Faktor lain yang memicu perilaku buruk di dunia maya adalah hilangnya rasa menghormati martabat sesama.

Dikutip dari Verywell Mind, pelaku sering tidak menyadari bahwa pemilik akun lain di platform digital adalah manusia nyata. Mereka menganggap platform daring sebagai ruang bebas tanpa batasan etika.

Pandangan ini menghilangkan kendali diri dan memicu perilaku agresif saat berinteraksi di kolom komentar. Ketidakberadaan kontak fisik secara langsung membuat pengguna tidak memedulikan dampak emosional dari kalimat yang ditulisnya.

Langkah Sehat Menghadapi Komentar Jahat

Untuk menjaga kesehatan mental, terdapat beberapa cara praktis yang bisa diterapkan dalam menyikapi komentar jahat. Langkah pertama adalah menghindari platform digital yang didominasi oleh lingkungan tidak kondusif. Mengingat perilaku orang lain berada di luar kendali, setiap individu perlu bijak memilih ruang digital yang aman.

Jika menemukan unggahan berisi kalimat beracun, cobalah untuk langsung mengabaikannya tanpa perlu membaca seluruh isi komentar.

Membiasakan diri melompati tulisan negatif bermanfaat untuk melatih kontrol emosi pribadi. Selain itu, membatasi durasi penggunaan gawai menjadi metode efektif dalam memelihara stabilitas mental. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa pengurangan waktu layar dapat membantu seseorang fokus pada kehidupan nyata.

Aktivitas harian seperti bangun pagi, rutin berolahraga, dan menghabiskan waktu bersama keluarga dapat meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author