Pemerintah Prabowo Respons Inisiatif Kabinet Bayangan dengan Dialog dan Kinerja

Share

Keberadaan inisiatif kabinetbayangan.id sebagai kelompok masyarakat sipil yang mengawasi pemerintahan menunjukkan dinamika demokrasi yang masih hidup di Indonesia, ujar Syafrudin Budiman, Koordinator Nasional Aliansi Relawan Prabowo-Gibran (ARPG). Menurut Syafrudin, kritik terhadap pemerintah adalah instrumen penting untuk memperkuat tata kelola pemerintahan, bukan ancaman. Namun, ia mengingatkan bahwa konsep kabinet bayangan berasal dari sistem parlementer, sedangkan Indonesia menerapkan sistem presidensial dengan pengawasan utama melalui lembaga legislatif, media, akademisi, dan masyarakat sipil. Syafrudin menegaskan keberadaan kabinet bayangan harus dipahami sebagai gerakan intelektual masyarakat sipil yang bergerak dalam koridor konstitusi dan berbasis data demi kepentingan publik.

"Pemerintah tidak perlu bersikap defensif terhadap kritik konstruktif, tetapi harus membuka ruang dialog dan merespons kritik dengan kinerja dan data yang nyata," ujar Syafrudin.

Dia menambahkan, pemerintah Presiden Prabowo Subianto yang didukung legitimasi pemilu demokratis harus memandang kritik objektif sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan pelayanan publik dan efektivitas birokrasi, termasuk dalam pelaksanaan program nasional seperti Asta Cita dan penguatan ketahanan pangan.

"Hubungan antara pemerintah dan masyarakat sipil seharusnya menjadi kemitraan yang saling melengkapi, di mana pemerintah menjalankan kebijakan dan masyarakat sipil mengawasi serta memberikan masukan," katanya.

Syafrudin juga menekankan pentingnya komitmen pemerintah menjamin kebebasan berpendapat sesuai UUD 1945, selama kritik disampaikan dengan tanggung jawab, berdasarkan fakta, tanpa fitnah, dan tidak memecah belah bangsa.

"Masyarakat sipil pun harus menjaga objektivitas kritik agar tidak berubah menjadi propaganda politik tanpa dasar empiris," tambahnya.

Menurut Syafrudin, kritik yang membangun harus menghadirkan alternatif kebijakan realistis dan dapat dipertanggungjawabkan untuk mendukung kedewasaan demokrasi.

Pemerintah didorong untuk tidak alergi terhadap kritik, melainkan fokus pada peningkatan kinerja, membuka dialog, dan menjawab setiap masukan dengan bukti dan kebijakan yang berpihak pada rakyat. Dia mengingatkan seluruh elemen bangsa agar keberadaan kabinet bayangan tetap dalam koridor demokrasi sehat dan tidak memicu polarisasi atau destabilisasi nasional.

"Kritik konstruktif harus memperbaiki kebijakan publik, bukan menimbulkan kegaduhan politik yang menghambat pemerintahan," ujar Syafrudin.

Dia mengajak agar sinergi antara pemerintah dan masyarakat sipil memperkuat tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan nasional demi stabilitas dan percepatan pembangunan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author