BBKSDA Riau Pasang Kandang Jebak Usai Beruang Madu Serang Warga
Upaya mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar langsung dilakukan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau di Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Langkah cepat ini diambil setelah seekor beruang madu menyerang seorang warga desa saat beraktivitas di kebunnya.
Insiden tersebut terjadi ketika korban diserang dari arah belakang oleh beruang madu bernama ilmiah Helarctos malayanus. Korban sempat memberikan perlawanan hingga satwa tersebut melepaskan serangannya dan melarikan diri, seperti dilansir dari Detik Travel.
Akibat kejadian itu, korban menderita luka yang cukup parah dan kehilangan banyak darah. Setibanya di rumah, korban sempat pingsan sebelum akhirnya dilarikan pihak keluarga ke Rumah Sakit Selasih Pangkalan Kerinci untuk mendapatkan perawatan medis.
Merespons kejadian ini, Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) dari Pekanbaru diterjunkan ke lokasi dengan membawa satu unit kandang jebak (box trap). Pemasangan kandang jebak dilakukan bersama pemerintah desa dan aparat setempat di sekitar lokasi serangan untuk memantau pergerakan satwa sekaligus mengantisipasi potensi bahaya lanjutan.
Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam setiap penanganan kasus penyerangan satwa liar.
"Setiap laporan konflik satwa liar kami tindak lanjuti dengan menurunkan tim WRU ke lapangan. Penanganan dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan keselamatan masyarakat serta menjaga kelestarian satwa liar yang dilindungi. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat agar langkah mitigasi dapat berjalan secara efektif," kata Supartono dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).
Sebagai satwa yang dilindungi oleh undang-undang, penanganan beruang madu dilakukan secara berhati-hati agar keselamatan warga tetap terjaga tanpa mengabaikan kelestarian satwa dan habitatnya. BBKSDA Riau mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan, tidak pergi ke kebun sendirian, dan segera melapor jika menemukan keberadaan satwa liar.
Langkah penanganan konflik ini sejalan dengan arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menekankan pentingnya mitigasi konflik secara adaptif. Pendekatan tersebut selaras dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto kepada jajarannya untuk memperkuat penanganan konflik manusia dan satwa liar secara cepat, kolaboratif, serta berbasis konservasi demi menjamin keselamatan masyarakat.