BMKG Prediksi Puncak Kemarau Indonesia Terjadi Agustus 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia akan terjadi pada bulan Agustus 2026, meskipun tidak semua daerah mengalami puncak kemarau secara bersamaan.
Puncak kemarau ditandai oleh jumlah zona musim (ZOM) terbanyak yang mengalami puncak kemarau pada bulan tersebut. Indonesia memiliki total 699 ZOM, dan pada Agustus sebanyak 48,81% ZOM diperkirakan mencapai puncak kemarau.
Selain Agustus, beberapa daerah mengalami puncak kemarau pada bulan Juli dan September. Pada Juli, sekitar 12,26% ZOM mengalami puncak kemarau, sedangkan pada September sebanyak 25,41% ZOM mengalami puncak kemarau. Bulan lain memiliki persentase yang lebih kecil.
Menurut BMKG, indikator utama puncak musim kemarau bukanlah suhu udara melainkan curah hujan yang paling sedikit selama periode tersebut. Puncak musim kemarau didefinisikan sebagai periode tiga dasarian atau sekitar 30-31 hari dengan curah hujan terendah dalam satu musim kemarau.
BMKG juga melakukan pembaruan prediksi musim setiap tiga bulan untuk menyesuaikan dengan kondisi iklim terbaru.
Pada bulan Juli, puncak kemarau terjadi di sebagian wilayah Sumatera, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, NTT bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, serta sebagian kecil Maluku dan Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, dan Papua bagian timur.
Agustus menjadi puncak kemarau untuk Sumatera bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.
Pada bulan September, puncak kemarau terjadi di Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.
El Nino dan Musim Kemarau
BMKG menegaskan bahwa fenomena El Nino bukanlah musim kemarau, melainkan kondisi iklim global yang dapat memperkuat dampak musim kemarau. Tahun ini, El Nino diperkirakan membuat musim kemarau lebih kering dan lebih panjang, khususnya pada bulan Agustus dan September.
Pengaruh El Nino meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, gangguan produksi pangan, serta potensi kebakaran hutan dan lahan. Fenomena tersebut juga berdampak pada sektor kesehatan, energi, dan aktivitas ekonomi secara umum.
Informasi ini dikutip dari BMKG dan dilansir dari Detikcom.