Dituduh Plagiarisme, Jason Arday Mundur dari Universitas Cambridge

Share

Profesor sosiologi Jason Arday memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya di Universitas Cambridge dan Jesus College pada Rabu (5/8/2026) malam. Langkah ini diambil usai munculnya penyelidikan internal mengenai dugaan plagiarisme serta keabsahan kualifikasi akademiknya. Penyelidikan resmi dibuka setelah pihak kampus menerima informasi baru terkait kualifikasi dan gelar kehormatan akademisi yang dikenal sebagai profesor kulit hitam termuda dalam sejarah Cambridge tersebut.

Pemeriksaan independen juga dijalankan secara paralel oleh Jesus College tempat Arday bernaung sebagai fellow. Sorotan terhadap karya ilmiah Arday mengemuka usai mantan peneliti Cambridge, Nathan Cofnas, melontarkan tuduhan plagiarisme pada Juli 2026. Hasil analisis media The Times terhadap disertasi doktoral Arday tahun 2015 mengindikasikan adanya kemiripan teks dengan karya terbitan lain serta potensi ketidaksesuaian data statistik.

Selain karya tulis, publik menyoal klaim riwayat pekerjaan di beberapa institusi serta aksi penggalangan dana amal dan rekor maraton pribadinya. Arday sempat mengklarifikasi bahwa kegiatan amal tersebut dilakukan bersama tim, serta membantah telah melakukan manipulasi data penelitian secara sengaja.

Arday mengutarakan pandangannya terkait tekanan akademis dan dampak tuduhan publik melalui surat terbuka yang dirilis Good Law Project. "Meskipun kritik merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan akademis, apa yang saya alami telah jauh melampaui sekadar perbedaan pendapat ilmiah," kata Arday.

Ia menyampaikan dampak psikologis yang dirasakan dirinya dan keluarga akibat polemik yang terus berkepanjangan tersebut. "Tuduhan, spekulasi, dan komentar publik yang tiada henti telah memberikan dampak yang sangat berat bagi saya dan orang-orang yang saya cintai," ujar Arday.

Ia menambahkan bahwa pengunduran dirinya merupakan keputusan yang terpaksa diambil untuk mengakhiri perselisihan. "Keputusan ini juga tidak boleh dianggap sebagai penerimaan terhadap narasi-narasi yang selama ini menyudutkan saya," kata Arday. Ia turut mengisahkan masa kecilnya sebagai penderita autisme yang sempat mengalami keterlambatan bicara hingga usia 11 tahun.

"Respons dari begitu banyak orang di seluruh dunia sungguh luar biasa," tutur Arday.

Dalam kesempatan terpisah, Arday menyampaikan penolakannya atas tuduhan kecurangan yang dialamatkan kepadanya. "Kita berbicara tentang dunia akademis di sini, saya tidak membunuh orang," kata Arday. Ia juga menegaskan beban personal dari pengawasan ketat yang dialaminya sejak menjabat di Cambridge pada 2023.

"Tahun-tahun sejak penunjukan saya ditandai oleh tingkat pengawasan publik dan serangan pribadi yang tak henti-hentinya," ujar Arday.

Ia menilai titik batas ketahanan pribadinya telah terlampaui sehingga memilih untuk melangkah mundur. "Ada titik di mana biaya pribadi menjadi terlalu besar," kata Arday.

Ia menekankan bahwa langkah ini diambil semata demi kedamaian orang-orang di sekitarnya. "Demi kesejahteraan saya sendiri, keluarga saya, dan mereka yang telah berdiri di samping saya selama periode sulit ini, saya menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri bab ini adalah dengan melangkah mundur," tegas Arday.

Ia menduga ada gerakan terencana yang melatarbelakangi pengunduran dirinya dari lingkungan kampus. "Sejak saya tiba di Cambridge, telah ada kampanye yang sangat terorganisir dan terkoordinasi untuk menjatuhkan saya dari posisi saya," kata Arday. Ia juga menyiratkan niat untuk kembali ke dunia akademik setelah kondisi membaik.

"Saya membutuhkan waktu untuk memulihkan diri. Saya akan kembali," tulis Arday.

Pihak Jesus College memberikan pernyataan resmi terkait status keanggotaan Arday selama proses pemeriksaan berlangsung. "Profesor Arday tetap menyandang status fellow selama proses ini berlangsung," kata juru bicara Jesus College. Universitas Cambridge menyatakan proses penanganan aduan pelanggaran integritas akademik tetap berjalan sesuai prosedur yang berlaku tanpa memberikan komentar rinci demi menjaga keadilan pemeriksaan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author