AS dan Iran Bahas Nota Kesepahaman Akhiri Perang Via Pakistan
Pemerintah Amerika Serikat dan Iran tengah mendekati kesepakatan untuk mengakhiri perang melalui perundingan tak langsung yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad. Kepastian mengenai perkembangan pembicaraan bilateral tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, pada Senin (25/5/2026), dilansir dari Detikcom.
Laporan dari media Barat seperti New York Times dan Axios mengindikasikan bahwa kedua belah pihak semakin dekat untuk memfinalisasi nota kesepahaman. Kerja sama ini ditujukan guna mengatur perpanjangan gencatan senjata serta pemulihan jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah.
Rubio menjelaskan bahwa draf kesepakatan yang ada saat ini sudah memuat poin-poin krusial. Fokus utama dari dokumen tersebut mencakup normalisasi jalur maritim internasional dan pembatasan program strategis.
"kemungkinan hari ini" kata Rubio mengenai potensi adanya kabar terbaru dari meja diplomasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Rubio di sela-sela agenda kunjungan dinasnya di New Delhi, India. Media Anadolu Agency melaporkan bahwa pembicaraan ini juga melibatkan komitmen pembukaan kembali kawasan perairan strategis.
"Pekerjaan masih berlangsung. Kami pikir mungkin akan ada sejumlah kabar nanti malam, mungkin hari ini," kata Rubio di hadapan para wartawan.
Diplomat senior bentukan Presiden Donald Trump ini menambahkan bahwa rancangan perjanjian komprehensif tersebut berfokus pada penyelesaian sengketa jangka panjang. Koridor maritim dan isu energi menjadi pembahasan paling mendasar.
"hal yang cukup solid di atas meja terkait kemampuan mereka untuk membuka selat, membuat selat dibuka, memasuki negosiasi yang sangat nyata, signifikan, dan dengan waktu terbatas mengenai masalah nuklir" kata Rubio menjelaskan isi draf tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk mendahulukan pendekatan persuasif. Kendati demikian, Washington memastikan tidak akan menerima poin-poin kesepakatan yang merugikan posisi geopolitik mereka.
"Semoga kita bisa mewujudkannya," ucap Rubio.
Kunjungan kerja luar negeri Rubio ke India dijadwalkan berlangsung selama empat hari berturut-turut. Isu keamanan global menjadi agenda utama yang dibahas bersama para mitra diplomatik di Asia Selatan.
"Like as the President (Trump) said, he is not in a hurry; he is not going to make a bad deal. Maksud saya, Presiden tidak akan membuat kesepakatan yang buruk. Jadi mari kita lihat apa yang terjadi. Kita akan memberikan diplomasi setiap kesempatan untuk berhasil sebelum kita mengeksplorasi alternatifnya," kata Rubio merinci sikap Trump.
Rubio turut menegaskan bahwa otoritas tertinggi di Gedung Putih memiliki perhatian yang sangat besar terhadap potensi eskalasi militer di Timur Tengah. Penanganan risiko tersebut menjadi prioritas utama kabinet saat ini.
"tidak ada yang lebih serius" cetus Rubio mengenai pandangan Trump terhadap situasi geopolitik Iran.
Guna memastikan kelancaran proses ini, koordinasi intensif terus berjalan di tingkat pimpinan wilayah. Opsi di luar jalur perdamaian tetap disiapkan sebagai langkah antisipasi terakhir.
"Jadi saya sangat yakin bahwa kita semua seharusnya sangat yakin jika kita akan memiliki kesepakatan yang baik atau kita harus menanganinya dengan cara lain. Kita lebih memilih untuk memiliki kesepakatan yang baik," kata Rubio memungkasi penjelasannya.
Sebelumnya pada Sabtu (23/5/2026), Presiden Donald Trump telah mengadakan pembicaraan via telepon dengan sejumlah pemimpin regional di Timur Tengah. Hingga saat ini, pihak Gedung Putih dan pemerintah Iran belum mengeluarkan rilis resmi mengenai hasil akhir perundingan.