Trump Pilih Opsi Diplomasi Iran di Tengah Ancaman Militer Israel
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan lebih memilih jalur diplomasi ketimbang opsi militer untuk menyelesaikan ketegangan dengan Iran, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Kamis (6/8/2026). Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengisyaratkan kesiapan pasukannya untuk melakukan serangan sepihak ke Teheran.
Sikap tersebut disampaikan Trump dalam sebuah acara di Las Vegas. Ia menegaskan prioritas utamanya adalah mencapai kesepakatan damai guna menghindari jatuhnya korban jiwa, meski opsi militer tetap disiagakan jika jalur negosiasi menemui jalan buntu.
"Saya lebih memilih untuk mencapai kesepakatan, karena saya tidak ingin membunuh orang," kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Pemerintah AS sebenarnya sempat mematangkan rencana serangan berskala besar. Namun, langkah penyerangan tersebut ditunda setelah pihak Iran mengajukan permohonan untuk membuka dialog diplomatik.
Di internal pemerintahan AS sendiri, perselisihan sempat memanas antara Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Ketegangan yang terjadi dalam rapat kabinet di Camp David tersebut dipicu oleh laporan persediaan amunisi AS yang kian menipis akibat konflik kawasan.
Sementara itu, Israel justru menunjukkan respons berbeda terhadap perkembangan diplomasi yang diusung Washington. PM Benjamin Netanyahu menegaskan komitmennya untuk menghalangi kepemilikan senjata nuklir Iran tanpa bergantung pada langkah AS.
Penolakan Israel juga menyasar pada rencana perdamaian Gaza 20 poin yang diumumkan Trump dan Dewan Perdamaian pada 31 Juli. Usulan yang mencakup transisi administratif di Gaza serta pelucutan senjata Hamas tersebut dinilai Netanyahu belum memenuhi standar kebutuhan keamanan Tel Aviv.
Eskalasi di kawasan juga berdampak pada kepemimpinan internal Iran pascaserangan gabungan AS dan Israel. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan tantangan komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang kini berada dalam kondisi terluka.
"Sangat sulit untuk berkomunikasi dengannya saat ini, namun bagaimanapun juga, keberadaannya merupakan sumber kekuatan yang sangat besar bagi kami untuk terus melangkah," kata Pezeshkian, Presiden Iran.