Kemnaker Sediakan 10 Ribu Kuota Pelatihan Vokasi Gratis di Sultra
Kementerian Ketenagakerjaan mengalokasikan 10 ribu kuota program pelatihan vokasi secara gratis di Provinsi Sulawesi Tenggara sepanjang 2026 guna menekan angka ketidaksesuaian bidang kerja atau mismatch lulusan perguruan tinggi.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan komitmen pengalokasian kuota tersebut saat membawakan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Kendari pada Rabu, 5 Agustus 2026. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, sebanyak 33,5 persen lulusan perguruan tinggi di Indonesia saat ini bekerja tidak sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajari.
Program pelatihan gratis ini bertujuan meningkatkan kompetensi, produktivitas, dan etos kerja masyarakat Sulawesi Tenggara agar siap menangkap peluang kerja maupun wirausaha di tengah pesatnya pembangunan proyek industri daerah.
"Saya juga sudah sampaikan ke Gubernur Sultra, khusus untuk Sultra kita siapkan minimal 10 ribu kuota pelatihan hingga Desember 2026," kata Yassierli.
Yassierli menjelaskan bahwa materi pelatihan akan diselaraskan secara langsung dengan kebutuhan di kawasan-kawasan industri.
"Materi pelatihan akan terus kami perbarui dan nantinya disambungkan langsung dengan kebutuhan di kawasan-kawasan industri," ujarnya.
Seluruh peserta pelatihan akan mendapatkan sejumlah fasilitas pendukung seperti makan siang, bantuan biaya transportasi, sertifikat pelatihan BPVP, hingga Sertifikat Kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi.
"Program ini diprioritaskan bagi lulusan SMA/SMK sederajat dan masyarakat umum berusia minimal 17 tahun yang telah memiliki akun terdaftar pada platform SIAPkerja," sebut Yassierli.
Pelaksanaan pelatihan dipusatkan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kendari yang menyediakan 13 bidang kejuruan. Kejuruan tersebut mencakup teknik listrik, elektronika, bisnis dan manajemen, teknologi informasi dan komunikasi, otomotif, pertambangan, pengelasan, teknik bangunan, kecantikan, teknologi fesyen, pariwisata, teknologi pengolahan hasil pertanian, hingga produktivitas.
Secara nasional, Kemnaker menargetkan sebanyak 270 ribu peserta pelatihan vokasi di 43 balai Kemenaker serta balai-balai daerah. Program ini disiapkan melalui pembaruan kurikulum dan kesiapan tenaga instruktur, di mana 70 ribu peserta di antaranya telah selesai dilatih.
"Nah, pelatihan vokasi itu ada 270 ribu orang," kata Yassierli di Makassar pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Menaker memaparkan bahwa persiapan teknis pelatihan tersebut telah dilakukan secara matang di berbagai daerah.
"Ini sekarang sedang kita data, kurikulumnya sudah siap, instrukturnya sudah siap. Kita sudah melatih 70 ribu dan kita akan tambahkan 270 ribu pelatihan vokasi di 43 balai yang ada di Kemenaker dan nanti kita juga akan berikan alokasi untuk balai-balai yang ada di daerah," jelas Yassierli.
Selain pelatihan vokasi, Kemnaker juga memperluas Program Magang Nasional 2026 dengan target 150.000 peserta secara nasional. Jumlah ini meningkat 50.000 peserta dibandingkan tahun sebelumnya, di mana peserta mendapatkan uang saku setara upah minimum selama enam bulan.
Pada gelombang pertama, antusiasme pendaftar tercatat mencapai lebih dari 400 ribu orang yang kini menjalani proses seleksi oleh pihak perusahaan, dengan jadwal pelaksanaan magang dimulai pada 10 Agustus 2026.
"Ya magang, Alhamdulillah magang sekarang prosesnya, kita sedang seleksi oleh perusahaan dan kita buka batch pertama 50 ribu orang dan antusiasme luar biasa yang daftar lebih dari 400 ribu," kata Yassierli.
Proses seleksi diserahkan sepenuhnya kepada pihak swasta agar kandidat yang terpilih sesuai dengan kebutuhan operasional industri.
"Sekarang bolanya ada di perusahaan, dan kita berharap perusahaan bisa mendapatkan kandidat yang sesuai dengan harapan sehingga adik-adik kita bisa mengikuti program magang dan memperoleh banyak pengalaman," ungkap Yassierli.
Pemerintah terus memantau pelaksanaan magang guna memastikan kecocokan antara latar belakang pendidikan peserta dan tempat magang.
"Kita dalam angkatan yang kedua ini, kita juga sudah mulai lebih detail melihat perusahaan-perusahaan tempat mereka magang dan kita memang pilihkan perusahaan yang memang sesuai tempat magang yang sesuai dengan program studi mereka saat di kampus," jelas Yassierli.
Pelaksanaan magang dilanjutkan pada gelombang kedua dan ketiga yang masing-masing mengalokasikan kuota sebanyak 50 ribu peserta.
"Untuk batch pertama sudah selesai dan pelaksanaan magang dimulai pada 10 Agustus 2026. Setelah itu, akan dibuka batch kedua sebanyak 50 ribu peserta dan batch ketiga 50 ribu peserta lagi," jelasnya.
Menaker menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri harus diperkuat dengan sertifikasi kompetensi serta penguasaan keterampilan lunak seperti komunikasi, empati, dan berpikir kritis.
"Ada mismatch yang menjadi PR (pekerjaan rumah) kita bersama. Perguruan tinggi menghasilkan lulusan, namun seringkali tidak nyambung dengan kebutuhan industri. Inilah mengapa kampus harus selalu dekat dengan industri," ujar Yassierli dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Yassierli menambahkan bahwa mahasiswa perlu menguasai kombinasi kompetensi spesifik dan umum agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
"Mahasiswa juga didorong memiliki kombinasi beberapa kompetensi spesifik yang didukung satu kompetensi umum (M-Shaped), sehingga lebih adaptif menghadapi perkembangan dunia kerja dibanding hanya mengandalkan satu spesialisasi," ujar Yassierli.
Pemerintah memandang program magang ini sebagai langkah konkret dalam menjembatani kebutuhan dunia kerja dengan kualifikasi lulusan.
"Program Magang Nasional ini adalah investasi besar dan bukti keseriusan pemerintah untuk memperkecil kesenjangan kompetensi antara lulusan dengan kebutuhan dunia industri," kata Yassierli.
Perubahan keahlian di dunia kerja yang diprediksi mencapai 39 persen dalam enam tahun ke depan menuntut mahasiswa untuk terus mengembangkan pola pikir adaptif dan inovatif.
"Dunia bergerak cepat. Sebanyak 39 persen keahlian akan berubah dalam enam tahun ke depan. Mahasiswa tidak boleh berhenti belajar hanya di dalam kelas," imbuh Yassierli.