Gempa Magnitudo 6,5 Guncang Laut Sulawesi BMKG Pastikan Tak Tsunami

Share

Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,5 mengguncang wilayah perairan Sulawesi Utara pada Rabu (5/8/2026) pukul 11.14 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memastikan guncangan akibat aktivitas subduksi tersebut tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.

Pusat gempa dangkal berkedalaman 10 kilometer itu terdeteksi berada di laut pada jarak 186 kilometer arah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe. Pemutakhiran parameter BMKG mencatat titik episenter gempa berada pada koordinat 5,29 Lintang Utara dan 125,43 Bujur Timur.

Guncangan lindu dirasakan dengan intensitas IV MMI di Kepulauan Marore, Miangas, dan Kendahe. Skala intensitas tersebut menyebabkan getaran dirasakan nyata oleh orang banyak di dalam rumah, membuat gerabah pecah, hingga pintu dan jendela berderik.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan mekanismenya.

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam keterangan resmi.

Hasil permodelan BMKG mengonfirmasi pergerakan sesar di Cotabato Trench ini aman dari bahaya tsunami.

"Gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,5 pada kedalaman 10 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5,29° LU; 125,43° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 186 Km arah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI," tambah Wijayanto.

Aktivitas gempa susulan juga terpantau terjadi beberapa saat setelah guncangan utama.

"Hingga pukul 11:40 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 2 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar M4,8," ujar Wijayanto.

Pihak BMKG terus memperbarui data perkembangan seismik pascagempa.

"BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat," sambungnya.

Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Kepulauan Talaud melaporkan tidak ada kerusakan fasilitas fisik maupun korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Sementara itu, lembaga pemantau geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat pusat gempa berada di dekat pulau Sarangani, Filipina selatan.

Petugas penyelamat Pulau Sarangani, Harly Sauro, membeberkan kepanikan warga saat guncangan terjadi.

"Guncangannya cukup kuat. Saya melihat orang-orang panik. Mereka berlari dan berteriak," katanya kepada AFP.

Kepanikan dipicu oleh aktivitas warga yang sedang berada di area publik.

"Gempa bumi terjadi saat pemerintah daerah memberikan subsidi keuangan, jadi ada banyak orang di lokasi, tetapi semua orang selamat," tambahnya.

Petugas mengonfirmasi situasi keamanan di area terdampak tetap aman pascagempa.

"Berdasarkan penilaian dan pengalaman kami, kami tidak berpikir akan ada korban jiwa atau kerusakan," tuturnya.

Di hari yang sama, BMKG turut mencatat serangkaian aktivitas seismik di Jawa Barat. Kabupaten Pangandaran diguncang gempa M 5,3 pada pukul 21.55 WIB dengan kedalaman 18 kilometer, serta gempa M 3,3 di selatan Sukabumi pada pukul 15.12 WIB. Sehari sebelumnya pada Selasa (4/8/2026), gempa dangkal M 4,1 akibat sesar aktif bawah laut juga sempat menggetarkan wilayah barat daya Kabupaten Bandung.

Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang Hartanto mengonfirmasi posisi episenter guncangan di Jawa Barat tersebut.

"Gempa tersebut memiliki koordinat 7,79 Lintang Selatan dan 107,25 Bujur Timur dengan kedalaman 23 kilometer," kata Hartanto dalam keterangan resminya.

Guncangan terasa di wilayah Pelabuhan Ratu dan Pangalengan pada skala II-III MMI.

"Berdasarkan laporan masyarakat, getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Pelabuhan Ratu dan Pangalengan," jelasnya.

Hasil pemantauan mengonfirmasi tidak ada aktivitas susulan pascaguncangan di Bandung.

"Hingga pukul 16:10 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan," jelas Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Dr Hartanto.

Masyarakat mengimbau agar tetap tenang, menghindari bangunan yang mengalami retakan, serta memantau informasi resmi dari kanal BMKG dan BNPB.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: BMKG gempa bumi Sulawesi Utara
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author