Kementerian PU Percepat Proyek Tol Serpong-Bogor Senilai Rp12 Triliun

Share

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat progres pembangunan Tol Serpong-Bogor via Parung sepanjang 32 kilometer untuk memperkuat konektivitas di kawasan Jabodetabek pada Senin (25/5/2026). Proyek infrastruktur ini menelan nilai investasi mencapai Rp12,35 triliun tanpa menggunakan dukungan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Perencanaan teknis untuk jalur bebas hambatan ini sedang disusun oleh pemerintah, sebagaimana dilansir dari Detik Finance. Skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) diterapkan untuk mendanai seluruh nilai konstruksi proyek tersebut.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menjelaskan bahwa proses penyusunan perencanaan teknis ditargetkan rampung pada tahun ini.

"Progres proyek saat ini masih dalam tahap penyusunan perencanaan teknis, dengan progres mendekati 80%. Kami terus mempercepat proses agar tahapan perencanaan dapat selesai tahun ini," ujar Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum (PU).

Penyelesaian proyek ini diproyeksikan mampu memotong waktu tempuh kendaraan dari Bogor menuju Tangerang hingga menjadi kisaran 45 menit. Pembangunan fisik jalan tol akan dikerjakan oleh PT Bogor Serpong Infra Selaras selaku konsorsium pemegang masa konsesi selama 40 tahun.

Konsorsium tersebut terdiri atas PT Jasa Marga, PT Adhi Karya, PT Hutama Karya Infrastruktur, dan PT Persada Utama Infra. Fasilitas teknis jalan tol ini mencakup dua junction utama, yakni Junction Salabenda dan Junction Serpong, serta tiga simpang susun di wilayah Pondok Udik, Putat Nutug, dan Rumpin.

Secara keseluruhan, jalan tol ini terbagi menjadi empat seksi pengerjaan. Seksi I meliputi Salabenda-Pondok Udik sepanjang 3,97 km, Seksi II Pondok Udik-Putat Nutug sepanjang 9,27 km, Seksi III Putat Nutug-Rumpin sepanjang 8,23 km, dan Seksi IV Rumpin-Serpong sepanjang 10,56 km.

Penegasan mengenai pemenuhan standar regulasi juga disampaikan oleh pemerintah demi menjaga kualitas infrastruktur. Hal itu meliputi aspek geometrik jalan, keselamatan konstruksi, hingga pemenuhan standar pelayanan minimal jalan tol.

Keberadaan jalur logistik baru ini diharapkan dapat menstimulus pertumbuhan pusat ekonomi baru dan menekan biaya logistik. Langkah ini juga ditargetkan mampu menurunkan nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) melalui percepatan distribusi barang dan jasa di kawasan Jabodetabek.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author