Jendela Ryanair Pecah Usai Mesin Meledak Maskapai Sebut Armada Tetap Aman
Seorang penumpang Ryanair bernama Ljubisa Karovic nyaris tersedot keluar kabin akibat jendela akrilik di dekat kursinya mendadak hancur di tengah penerbangan rute Thessaloniki menuju Memmingen, seperti dikutip dari Detik Travel.
Insiden bermula saat serpihan mesin yang meledak menghantam jendela hingga pecah. Aksi penyelamatan cepat dilakukan Svetlana Grkovic bersama dua penumpang lain dengan memegang kaki Karovic dan menariknya kembali ke dalam kabin.
Pesawat jenis Boeing 737 NG tersebut mengalami penurunan tekanan udara mendadak sebelum akhirnya berhasil melakukan pendaratan darurat. Kendati memicu kepanikan, pihak manajemen Ryanair menegaskan armada penerbangan tetap merupakan moda transportasi paling aman di dunia.
"Secara harfiah telah ada ratusan juta penerbangan dengan pesawat Boeing 737 ini di seluruh dunia sejak pertama kali dibuat," ujar Neil Sorahan selaku Chief Financial Officer (CFO) Ryanair Group.
Neil Sorahan menekankan bahwa tipe pesawat yang digunakan memiliki tingkat keamanan tinggi. Hal itu didukung proses perawatan berkala yang ketat serta kesiapan seluruh awak kabin yang terlatih profesional untuk menghadapi situasi darurat.
Terkait kompensasi korban, manajemen Ryanair mengaku sudah menghubungi pihak keluarga. Namun skema ganti rugi masih menunggu penyelesaian investigasi menyeluruh.
Chief Executive Officer (CEO) Ryanair, Michael O'Leary, menyampaikan indikasi awal penyebab ledakan berasal dari hantaman benda asing (Foreign Object Debris/FOD) pada mesin saat lepas landas dari Thessaloniki.
"Indikasi awal menunjukkan bahwa tampaknya ada kerusakan akibat benda asing pada mesin saat lepas landas di Thessaloniki, tetapi kami belum memiliki bukti, kami belum dapat mengatakan itu secara pasti," kata O'Leary.
Michael O'Leary menambahkan bahwa armada yang terlibat insiden tersebut berusia 18 tahun dan telah menjalani servis serta perbaikan mesin secara menyeluruh dalam dua tahun terakhir.
Investigasi atas peristiwa yang terjadi pada 10 Juli ini dipimpin langsung oleh Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) bersama tim independen. Laporan awal dijadwalkan terbit dalam waktu 28 hari sebelum disusul laporan mendalam.
Kejadian tragis rusaknya jendela kabin akibat pecahan mesin ini turut membangkitkan kembali ingatan publik atas peristiwa serupa yang pernah dialami maskapai Southwest Airlines pada 2016 dan 2018.