AS dan Sekutu Perkuat Armada Jet Tempur Siluman F-35 Global
Amerika Serikat bersama sejumlah negara sekutu terus memperluas pengerahan jet tempur siluman F-35 Lightning II untuk memperkuat jaringan pertahanan udara bersama di berbagai kawasan strategis. Pengadaan skala besar ini ditempuh guna memodernisasi armada udara sekaligus meningkatkan interoperabilitas antarangkatan militer.
Program Joint Strike Fighter yang diproduksi oleh Lockheed Martin di Fort Worth, Texas, kini memproduksi sekitar 3.000 unit armada dalam tiga varian utama. Selain lini produksi di AS, perakitan akhir juga dilakukan di Cameri, Italia, serta Nagoya, Jepang.
Amerika Serikat mendominasi kepemilikan dengan rencana pengadaan 1.763 unit F-35A, 340 unit F-35C, dan 353 unit F-35B. Sementara itu, empat negara mitra utama lainnya menyumbang porsi armada yang signifikan di luar AS.
| Peringkat | Negara | Total Rencana Armada F-35 |
|---|---|---|
| 1 | Amerika Serikat | 1.763 F-35A, 340 F-35C, 353 F-35B |
| 2 | Jepang | 105 F-35A, 42 F-35B |
| 3 | Britania Raya | 138 F-35B |
| 4}{Australia | 100 F-35A | |
| 5 | Italia | 60 F-35A, 30 F-35B |
Italia memegang peran kunci dalam rantai pasokan global melalui fasilitas perakitan dan perawatan di Pangkalan Udara Cameri. Negara ini siap mendirikan pusat pelatihan pilot F-35 pertama di luar AS yang berlokasi di Sisilia.
Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto memberikan pandangannya terkait pengembangan fasilitas pertahanan tersebut.
"Masa depan dibangun bukan dengan membatasi diri pada pertahanan, melainkan dengan menjadikan pertahanan sebagai mesin inovasi sosial, ekonomi, dan teknologi," kata Guido Crosetto, Menteri Pertahanan Italia.
Australia mengintegrasikan F-35A milik Angkatan Udara Kerajaan Australia (RAAF) dengan sistem intelijen jelajah jauh serta drone pendukung. RAAF telah mengerahkan delapan F-35A dari Skuadron No. 3 dalam latihan gabungan Bushido Guardian 25 di Jepang.
Komandan Sayap RAAF memberikan tanggapannya mengenai keterlibatan armada tersebut dalam latihan antarnegara.
"Kami sangat senang bisa mengangkasa bersama pesawat dari Jepang dan Amerika Serikat, berbagi pengalaman, serta mempererat hubungan antarpenerbang dari negara-negara kami," ujar Mark Biele, Komandan Sayap RAAF.
Britania Raya mengoperasikan varian F-35B pada kapal induk kelas Queen Elizabeth milik Angkatan Laut Kerajaan. Perusahaan BAE Systems memproduksi 15 persen komponen badan pesawat F-35 global dan mengelola pusat perawatan di RAF Marham.
Jepang terus menambah armada F-35A dan F-35B sebagai langkah penangkalan di kawasan Indo-Pasifik. Di sisi lain, simulasi tanggap darurat BB26-1 dilaksanakan personel Angkatan Udara AS di Pangkalan Udara Kadena, Jepang, pada 3 Agustus 2026 untuk mengamankan area dari ancaman drone mendarat.
Personel Skuadron Keamanan ke-18, Pemadam Kebakaran, dan tim EOD berkolaborasi dalam simulasi tersebut guna memastikan keamanan perimeter serta bahaya bahan peledak.
Staf Sersan Lucas Reale menjelaskan keunggulan dari pelaksanaan latihan keselamatan tersebut.
"Latihan seperti ini membantu mempersiapkan kami meraih keberhasilan saat menghadapi ancaman-ancaman ini dalam skenario dunia nyata," kata Lucas Reale, Penangan Anjing Pelacak Militer Skuadron Keamanan ke-18 Angkatan Udara AS.
Ia menambahkan bahwa koordinasi antarlembaga sangat krusial untuk menguji prosedur respon cepat di lapangan.
"Ini memungkinkan kami melatih koordinasi antarlembaga, menyempurnakan prosedur respon kami, dan membangun kepercayaan diri sehingga kami siap merespon secara efektif," ujar Lucas Reale, Penangan Anjing Pelacak Militer Skuadron Keamanan ke-18 Angkatan Udara AS.
Latihan kesiapsiagaan operasional BB26-1 dirancang untuk mereplikasi situasi darurat bertekanan tinggi bagi seluruh personel Angkatan Udara AS di kawasan Pasifik.