Warga Tondo Palu Protes Operasional Warung Babi Guling
Sejumlah warga mendatangi lokasi usaha kuliner Warung Ajek Tondo di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (2/8). Aksi tersebut dipicu keberadaan penanda usaha yang dinilai terlalu mencolok di tepi jalan utama, seperti dilansir dari Detikcom.
Aksi protes dari masyarakat setempat berlangsung secara spontan seusai warga berkumpul dan membicarakan keberadaan tempat usaha tersebut. Warga kemudian menghubungi pihak kelurahan untuk meminta penjelasan terkait operasional warung di kawasan mayoritas Muslim tersebut.
Tokoh masyarakat setempat, Ismail memberikan rincian terkait latar belakang kedatangan warga ke lokasi usaha tersebut.
"Kejadian kemarin sebenarnya spontanitas masyarakat, khususnya warga Tondo karena lokasi warung itu berada di wilayah mereka. Saat itu warga sedang berkumpul di sekitar lokasi, lalu muncul pembicaraan mengenai keberadaan warung tersebut. Dari situ masyarakat kemudian menghubungi Lurah Tondo untuk meminta penjelasan," kata Ismail, Tokoh Masyarakat.
Penegasan mengenai fokus keberatan warga disampaikan oleh Ismail guna meluruskan opini yang beredar di media sosial.
"Perlu saya tegaskan, ini bukan soal seseorang mencari nafkah dan bukan juga soal intoleransi seperti yang banyak disebut di media sosial," ujar Ismail, Tokoh Masyarakat.
Ismail menjelaskan bahwa letak usaha yang terbuka di jalur utama menjadi perhatian utama warga sekitar.
"Menurut kami, seharusnya hal seperti itu juga mempertimbangkan kondisi masyarakat sekitar," terang Ismail, Tokoh Masyarakat.
Ismail menyebutkan bahwa usaha sejenis tidak menimbulkan penolakan apabila penempatannya dilakukan secara lebih tersamar.
"Menurut kami, akan lebih menghargai masyarakat apabila usaha seperti itu tidak dibuka secara mencolok di pinggir jalan. Contohnya ada usaha serupa di bagian belakang permukiman. Lokasinya masuk ke dalam lorong, tidak memasang penanda yang mencolok sehingga tidak pernah menjadi persoalan," ujar Ismail, Tokoh Masyarakat.
Lanjutan klarifikasi mengenai isu yang berkembang di media sosial disampaikan oleh Ismail untuk menggambarkan situasi sebenarnya.
"Yang menjadi persoalan adalah bagaimana menghargai masyarakat mayoritas yang tinggal di lingkungan tersebut. Sayangnya di media sosial yang muncul hanya potongan video aksi warga sehingga banyak orang berkomentar tanpa mengetahui duduk persoalan sebenarnya," ujar Ismail, Tokoh Masyarakat.
Upaya mediasi sebelumnya telah dilakukan di Kantor Lurah Tondo sekitar sepekan sebelum aksi warga terjadi. Pemilik usaha diwajibkan mengumpulkan persetujuan tertulis dari 30 kepala keluarga di lingkungan sekitar sebagai syarat beroperasi.
Ismail memaparkan kronologi pertemuan serta kesepakatan yang sempat dibuat oleh para pihak terkait.
"Sekitar seminggu sebelumnya sudah ada mediasi di Kantor Lurah Tondo. Yang hadir antara lain lurah, tokoh masyarakat, tokoh agama, ketua RT, dan pihak pemilik usaha," ujar Ismail, Tokoh Masyarakat.
Ismail menegaskan kembali perincian syarat administrasi yang harus dipenuhi oleh pengelola warung.
"Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa pemilik usaha harus melengkapi sejumlah persyaratan, salah satunya memperoleh dukungan atau persetujuan dari sekitar 30 kepala keluarga yang tinggal di sekitar lokasi usaha," ujar Ismail, Tokoh Masyarakat.
Hingga peristiwa aksi terjadi, pemilik warung baru berhasil mengumpulkan persetujuan dari sekitar 10 kepala keluarga.
"Namun sampai aksi warga terjadi kemarin, syarat itu belum dipenuhi. Informasinya, tanda tangan yang berhasil dikumpulkan baru sekitar 10 orang. Artinya, masih banyak warga yang belum menyetujui. Karena itulah masyarakat akhirnya datang ke lokasi," jelas Ismail, Tokoh Masyarakat.
Masyarakat kini menunggu kelanjutan mediasi terbuka yang difasilitasi oleh pihak kelurahan guna menyelesaikan persoalan ini secara musyawarah.
"Kami meminta agar difasilitasi pertemuan terbuka yang melibatkan masyarakat, pemilik usaha, tokoh masyarakat, dan pihak terkait agar dicari solusi terbaik. Harapannya persoalan ini bisa diselesaikan melalui musyawarah," kata Ismail, Tokoh Masyarakat.