Trump membatalkan serangan ke Iran setelah batasan kesepakatan

Share

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran, setelah laporan media menyebut adanya batasan dari kesepakatan. Trump menyatakan pembukaan Selat Hormuz dan pengakhiran ancaman nuklir Iran menjadi bagian yang diminta untuk dipenuhi. Batalnya langkah itu terjadi di tengah eskalasi perang sejak serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari.

Menurut Trump, kebijakan sebelumnya bertujuan menekan Iran agar tidak lagi memiliki senjata nuklir. Ia menyebut kondisi Iran “sangat buruk” dan menepis laporan bahwa Iran masih berada dalam posisi yang kuat, sambil mempertimbangkan serangan besar-besaran terhadap target infrastruktur energi Teheran.

Trump mengatakan rencananya sempat mengarah pada serangan yang akan membuat Iran “berkata” bahwa mereka tidak tahan lagi. Ia juga menyatakan ancaman baru muncul ketika media-media AS melaporkan Trump mempertimbangkan serangan paling cepat akhir pekan ini.

"Kita hanya ingin menang. Kita berusaha untuk bersikap sebaik mungkin dalam situasi seperti itu. Namun, mereka sedang dihancurkan," kata Trump saat memimpin rapat kabinet di Camp David, kompleks peristirahatan kepresidenan di Maryland, pada Jumat (31/7) waktu setempat.

Dalam rapat yang sama, Trump kembali menyinggung klaim bahwa Iran tidak memiliki kemampuan senjata nuklir dan menegaskan pendekatan penekanan.

"Sangat sederhana. Iran tidak akan memiliki senjata nuklir," ucap Presiden AS itu.

Trump juga menegaskan bahwa serangan yang direncanakan akan dilakukan “dengan sangat keras” hingga mencapai titik tertentu yang memaksa respons dari Teheran.

"Kita akan menghantam Iran dengan sangat keras dan, Anda tahu, pada titik tertentu mereka akan berkata, 'Kami benar-benar tidak tahan lagi'," tegas Trump dalam rapat kabinet tersebut.

Iran merespons ancaman itu dengan rencana memperketat penutupan Selat Hormuz, jika AS terus melanjutkan ancaman dan blokade lautnya. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Bagher Zolghadr menyampaikan konsekuensi bagi ekonomi global, pasar energi, dan pemilih Amerika.

Dilansir dari Al-Jazeera, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Bagher Zolghadr mengatakan Teheran akan "memperketat" penutupan Selat Hormuz jika AS terus melanjutkan ancaman dan blokade maritimnya terhadap Iran.

Dalam pernyataannya yang diberitakan kantor berita IRNA, Zolghadr menyatakan kelanjutan blokade dan provokasi perang AS akan memperketat penutupan Selat Hormuz serta menutup selat dan titik strategis lainnya.

"Kelanjutan blokade maritim dan provokasi perang rezim AS akan semakin memperketat penutupan Selat Hormuz dan juga menutup selat dan titik-titik strategis lainnya," kata Zolghadr, menurut kantor berita IRNA.

Ia juga memperingatkan dampak penutupan terhadap ekonomi global dan pasar energi, sekaligus menyebut konsekuensi politik di AS.

"ekonomi global, pasar energi, dan pemilih Amerika akan menanggung akibatnya" dari penutupan tersebut, memperingatkan Zolghadr.

Dilansir dari Al-Jazeera, Minggu (2/8), Trump menyampaikan melalui akun Truth Social bahwa AS awalnya siap melancarkan "Teror, Kekuatan, dan Kekuasaan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II" terhadap Iran, sebelum diminta menunda serangan. Ia mengaitkan penundaan dengan batasan kesepakatan yang telah disetujui.

"Namun, ia menambahkan bahwa 'kami baru saja diminta' oleh Iran dan negara-negara lain untuk menunda serangan apa pun karena 'batasan kesepakatan telah disetujui'," tulis Trump dalam akun Truth Social, sebagaimana dilaporkan Al-Jazeera.

Trump menyebut kesepakatan tersebut mencakup pembukaan total Selat Hormuz dan pengakhiran ancaman nuklir Iran sebagai syarat untuk menunda serangan.

"Amerika Serikat siap siaga dan siap menyerang Republik Islam Iran, dengan tingkat teror militer, kekuatan, dan kekuasaan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II. Meskipun demikian, Iran dan negara-negara Timur Tengah lainnya baru saja meminta kami untuk menunda serangan apa pun karena batasan kesepakatan telah disetujui," kata Trump.

Ia menegaskan bahwa permintaan tersebut mengarah pada pembatalan serangan dengan syarat segera mencapai kesepakatan dan menyebut Israel ikut dalam komitmen.

"Berdasarkan permintaan ini, saya telah setuju, demi kepentingan dunia di masa depan dan juga demi kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur, untuk membatalkan serangan tersebut, dengan syarat dapat segera mencapai kesepakatan. Negara Israel bergabung dengan saya dalam komitmen ini. Mari bekerja, semuanya, dan selesaikan ini," ungkap Trump.

Di sisi lain, ada laporan tentang peran Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman yang menelepon Trump sebelum pembatalan. Dilaporkan oleh Axios, Mohammed bin Salman disebut mendesak Trump membatalkan serangan dan kembali ke negosiasi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author