Buaya Teror Warga Cipeundeuy Sukabumi dan Mangsa Belasan Ternak

Share

Kawanan buaya muara meneror kawasan Situ Habibie di Desa Cipeundeuy, Kabupaten Sukabumi. Keberadaan predator air tawar berukuran lebih dari dua meter ini mengancam keselamatan warga serta memangsa belasan hewan ternak milik penduduk setempat.

Aktivitas warga Sukabumi yang biasanya mengandalkan Situ Habibie untuk pencaharian dan memberi minum ternak kini terganggu. Konflik antara satwa liar dan masyarakat di danau tersebut terus berulang sepanjang satu tahun terakhir, seperti dilansir dari Detik Travel.

Data dari Pemerintah Desa Cipeundeuy mencatat sedikitnya 10 ekor ternak warga hilang dimangsa buaya saat digembalakan di pinggir danau.

"Kalau dihitung dalam jangka waktu satu tahun terakhir ini, tercatat sudah ada 1 ekor sapi dan 9 ekor domba milik warga yang hilang dimangsa buaya," ungkap Kepala Desa Cipeundeuy, Bakang Anwar As'adi, Kamis (30/7).

Ancaman reptil raksasa tersebut tidak hanya menyasar hewan ternak, tetapi juga menyerang masyarakat lokal yang beraktivitas di sekitar danau.

Dua warga Desa Cipeundeuy, Farel dan Baban, menjadi korban serangan langsung saat tengah mencari ikan di Situ Habibie. Keduanya diserang secara terpisah di dalam air.

"Untuk korban manusia, ada dua orang warga kami yang pernah digigit langsung oleh buaya, yaitu Farel dan Baban. Keduanya diserang saat sedang nyetrik ikan. Beruntung mereka masih diberi keselamatan, berjuang membela diri hingga tidak sampai kehilangan nyawa," terang Bakang.

Rentetan insiden serangan terhadap manusia dan ternak ini memperkuat dugaan warga bahwa kawasan Situ Habibie kini dihuni oleh kawanan buaya yang semakin agresif serta teritorial.

Pemerintah Desa Cipeundeuy bersama warga meminta Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) dan Pemkab Sukabumi segera melakukan evakuasi fisik secara nyata terhadap kawanan buaya tersebut.

"Daftar korbannya sudah jelas, dari ternak sampai manusia. Kami ingin ada langkah konkret, jangan biarkan Situ Habibie terus memakan korban sebelum ada nyawa yang benar-benar melayang," tegas Bakang.

Bakang menjelaskan pihak desa telah berulang kali mengirimkan surat resmi dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengatasi teror ini. Namun, penanganan di lapangan dinilai lambat akibat ketidakjelasan wewenang antarinstansi.

"Saya sudah berkoordinasi dengan semua pihak. Dulu dari BKSDA cuma dipasang papan imbauan saja, padahal kami di desa sudah berbuat lebih dari sekadar mengimbau warga. Kemarin-kemarin isunya penanganan dilempar ke DKPP. Saya bingung, sebenarnya siapa penanggung jawab resminya?" cetus Bakang.

Pemerintah Desa Cipeundeuy berharap BBKSDA bersama Pemkab Sukabumi segera mengambil tindakan cepat. Langkah ini penting untuk mencegah timbulnya aksi main hakim sendiri dari warga yang resah.

"Buaya kan hewan dilindungi. Saya tidak mau warga saya kelak malah terjebak masalah hukum gara-gara meluapkan kemarahan membunuh buaya. Tapi kalau dibiarkan terus, kesan dari instansi terkait seolah-olah ada pembiaran," tegasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author