Mentan Amran Ungkap Permainan Mafia Beras Fortifikasi Rugikan Rakyat

Share

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membongkar dugaan praktik kecurangan mafia perberasan yang mengalihkan produksi beras premium ke beras fortifikasi pada Jumat (31/7/2026). Praktik ini membuat beras premium langka dan berpotensi merugikan masyarakat hingga Rp71,9 triliun serta negara sebesar Rp56 triliun.

Pengalihan produksi dilakukan karena harga beras premium telah dikunci lewat aturan Harga Eceran Tertinggi sebesar Rp14.900 per kilogram. Produsen nakal memilih memproduksi beras fortifikasi karena bisa dijual hingga Rp42 ribu per kilogram demi mengincar keuntungan besar.

Padahal, beras fortifikasi merupakan beras yang diperkaya gizi mikro seperti vitamin B1, B12, asam folat, zat besi, dan zinc sesuai standar SNI 9314:2024 dan SNI 9372:2025. Biaya penambahan kernel fortifikan sebenarnya hanya berkisar Rp700 hingga Rp1.000 per kilogram, sehingga harga idealnya berada di kisaran Rp14 ribuan.

Hasil pengawasan Kementerian Pertanian terhadap 15 merek beras fortifikasi pada Juni 2026 menunjukkan 12 merek tidak memenuhi syarat pencampuran kernel minimal 1 persen maupun standar homogenitas. Dari seluruh beras fortifikasi yang terdaftar di pasaran, sekitar 80 persen diduga melanggar ketentuan.

"Ini kelihatan ada yang memainkan lagi perberasan Indonesia, melakukan pergeseran dari beras premium ke fortifikasi," kata Amran di kediamannya, Jakarta Selatan.

Kementerian Pertanian berkoordinasi dengan Satgas Pangan untuk membawa kasus ini ke jalur pidana dan menindak tegas produsen yang melanggar hukum.

"Saya sebagai kepala, Sestama, Dirjen, cabut izinnya. Itu kewenanganku, cabut izinnya dan tidak boleh mengedarkan karena ini sudah ada lab. Kemudian pidananya kirim ke Satgas," tegas Amran.

Amran menyebut ketatnya pengawasan beras premium menjadi alasan produsen berpindah mencurangi beras fortifikasi yang ditujukan untuk penanganan stunting.

“Iya (beras premium langka karena produsen beralih ke fortifikasi), itu katanya dia geser ke sana karena kalau, dugaan kami kalau dia premium kan tidak bisa main-main, kita kunci, berpindah lagi (ke beras fortifikasi),” ujar Amran di Kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.

Besarnya margin keuntungan menjadi pendorong utama produsen mengabaikan aturan HET dan standar gizi nasional.

“(Penyebab beralih) ya margin tipis, karena selalu mau cari untung banyak. Bayangkan kalau jual Rp 42 ribu, gila enggak untungnya,” kata Amran.

Kerugian masyarakat sebesar Rp71,9 triliun dihitung dari selisih harga rata-rata beras fortifikasi pasar yang mencapai Rp22.665 per kilogram dengan HET beras premium, dikali konsumsi nasional 9,2 juta ton per tahun.

“Itu potensi kerugian yang beras fortifikasi kan Rp 71 triliun. Nah, itu subsidi pemerintah kita hitung kemarin khusus untuk beras, khusus fortifikasi itu kurang lebih itu Rp 56 triliun Rp 60an triliun,” kata Amran.

Nilai subsidi negara tersebut merupakan bagian dari total subsidi sektor pangan nasional yang dikucurkan pemerintah pada 2025.

“Kalau total ini beras 34 juta ton (produksi dalam negeri) di dalamnya ini subsidi negara Rp 144 triliun, dari sini ini estimasi sekian persen fortifikasi, sekian premium. Berarti ini barang subsidi karena berasnya disubsidi semua,” ujar Amran.

Terlepas dari fenomena kecurangan tersebut, pasokan beras nasional hingga akhir Juli 2026 dipastikan aman sebesar 26,87 juta ton yang tersebar di Bulog, masyarakat, dan potensi panen.

“Artinya El Nino Godzilla yang sekarang lagi rame, Insya Allah kita bisa lolos dan tidak mempengaruhi kondisi perberasan Indonesia. Stok kita aman,” kata Amran.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author