PHR Targetkan Pengeboran Tiga Sumur MNK Rokan pada Desember 2026

Share

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menargetkan pengeboran tiga sumur appraisal minyak dan gas bumi non-konvensional (MNK) di Wilayah Kerja (WK) Rokan pada Desember 2026. Langkah ini diambil guna menahan laju penurunan produksi alami serta memastikan keberlanjutan pasokan energi nasional.

Pengembangan MNK di Rokan diperkuat oleh Keputusan Menteri ESDM Nomor 246 Tahun 2026 tentang Percepatan Pelaksanaan Pengusahaan Minyak dan Gas Bumi Non Konvensional WK Rokan. Regulasi tersebut memberikan fleksibilitas, tambahan insentif, serta percepatan izin operasional bagi PHR.

Saat ini, Regional 1 Sumatera mengelola seluruh aset hulu migas Pertamina di Sumatera melalui PHR Zona 1, PHR Zona Rokan, dan PHR Zona 4. Kawasan tersebut menyumbang sekitar 199 ribu barel minyak per hari atau 33 persen produksi nasional, serta 700 juta kaki kubik gas per hari.

Laju penurunan alami di lapangan migas tua dapat mencapai 30 persen per tahun jika tidak ada pengembangan baru. Untuk menjaga stabilitas produksi, PHR menjalankan pengeboran masif hingga sekitar 500 sumur per tahun di Zona Rokan dan 100 sumur di Zona 4.

Direktur Utama PHR Muhammad Arifin menjelaskan strategi perusahaan dalam menjaga baseline produksi melalui pengeboran agresif di wilayah operasional Sumatera.

"Untuk jaga supaya tidak decline, kami agresif menjaga baseline. Pengeboran masif di PHR sekitar 500 sumur, di Zona 4 sekitar 100 sumur. Di Sumatera pengeborannya sangat banyak karena aksesnya juga lebih mudah," kata Arifin dalam Media Gathering PHR pada Rabu (29/7/2026) malam.

Arifin juga menekankan pentingnya peran media dalam mendukung pencapaian target industri hulu migas nasional.

"Media gathering seperti ini sangat penting. Bukan sekadar bersilaturahmi, tetapi juga membangun komunikasi dua arah dan menyusun narasi bersama untuk mendukung target pemerintah yang diamanahkan kepada SKK Migas dan Pertamina sebagai tulang punggung industri hulu migas nasional," ujarnya.

Guna menunjang transisi energi, PHR telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 25 megawatt di kawasan Rokan serta memanfaatkan pasokan gas terlantar (stranded gas) menjadi compressed natural gas (CNG).

"Di pintu masuk Rumbai-Duri sudah banyak solar cell. Di Rokan bisa sampai 25 MW sehingga kontribusi kita terhadap EBT cukup signifikan. Dulu Rokan identik dengan minyak, sekarang energi gas yang lebih bersih juga kita kembangkan. Banyak gas stranded yang kita produksi, yang volumenya kecil kita manfaatkan menjadi CNG," ujarnya.

Mengenai kontribusi pasokan migas dari wilayah Sumatera, Arifin mengingatkan besarnya dampak gangguan operasional terhadap skala nasional.

"Kalau ada gangguan sedikit saja di Sumatera, dampaknya langsung terasa terhadap produksi nasional. Karena itu kami terus didorong SKK Migas untuk mempercepat setiap potensi produksi baru," katanya.

Keberhasilan pengeboran dua sumur eksplorasi MNK sebelumnya menjadi landasan utama PHR untuk beralih ke tahap komersialisasi dan pembuktian cadangan.

"Salah satu strategi kita untuk memastikan sustainability produksi kita adalah entering new business. Kalau pernah mendengar yang namanya MNK, minyak non-konvensional begitu ya, kitalah di Rokan, di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara yang melakukan pengeboran sumur utama," katanya.

Ia memaparkan rencana teknis kelanjutan proyek MNK setelah penemuan cadangan awal selesai dilakukan.

"Kita sudah bor dua sumur dan alhamdulillah terjadi discovery. Nah mulai tahun ini kita akan lakukan pengeboran sumur appraisal lalu demonstrasi dan insyaallah kita bor beberapa sumur untuk bisa menambah pundi-pundi minyak buat PHR dan juga buat negara," ujar Arifin.

Setelah pengeboran tiga sumur appraisal pada akhir tahun, PHR akan melanjutkan proyek dengan delapan sumur demonstrasi sebelum masuk ke tahap pengembangan skala penuh.

"Tiga sumur. Lalu nanti delapan sumur demonstrate-nya. Baru insya Allah nanti kalau sukses, itu hampir sekitar 400-an sumurnya," kata dia.

PHR menargetkan upaya ini dapat menjaga laju penurunan produksi di bawah 3 persen sekaligus menciptakan pertumbuhan tahunan.

"Insyaallah teman-teman kita di Rokan tak pernah lelah berusaha menjaga decline rate jangan sampai 3 persen. Bahkan kita berharap bisa grow, increase 5 persen setiap tahun," ujarnya.

Arifin menegaskan komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan produksi nasional melalui penerapan teknologi baru.

"Harapan kami bukan sekadar menahan penurunan produksi, tetapi mampu menciptakan pertumbuhan produksi setiap tahun melalui inovasi, teknologi, dan pengembangan lapangan baru," tegasnya.

Dukungan regulasi dari Kementerian ESDM serta kolaborasi bersama SKK Migas menjadi pendorong utama kelancaran proyek MNK di Rokan.

"Kepmen khusus untuk MNK Rokan, sedemikian rupa sehingga kita punya fleksibilitas, ada insentif tambahan di situ, ada kemudahan, ada percepatan. Jadi saya terima kasih kepada Kementerian ESDM dan SKK Migas yang sudah mendukung penuh untuk kita di MNK ini," katanya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author