Kilas Balik Perjalanan Karier Legenda AC Milan Franco Baresi
Legenda AC Milan Franco Baresi menorehkan jejak sejarah panjang dalam dunia sepak bola Italia melalui perjalanan karier yang penuh dinamika. Sosok bek tangguh ini mengawali debutnya di Serie A sejak usia muda hingga meraih berbagai gelar prestisius.
Karier Baresi dimulai pada Minggu, 23 April 1978 di Verona ketika pelatih Nils Liedholm menurunkannya sebagai pemain berposisi libero pada laga pekan-pekan akhir Serie A. Dalam pertandingan yang dimenangi AC Milan dengan skor 2-1 tersebut, Baresi yang belum genap berusia 18 tahun tampil memukau dan mendapat pujian dari para seniornya.
Direktur Teknik AC Milan Nereo Rocco sempat memberikan gurauan kepada Baresi di ruang ganti usai laga usai untuk menjaga kerendahan hati sang pemain muda.
"Apa, kamu juga main?" kata Nereo Rocco, Direktur Teknik AC Milan.
Usai debut tersebut, Baresi berhasil mengamankan posisi utama di skuat Rossoneri, merengkuh gelar juara liga pada musim berikutnya, serta dipanggil ke Timnas Italia untuk Piala Eropa 1980. Namun, perjalanan kariernya tidak selalu mulus karena ia harus melewati masa-masa sulit, termasuk bermain di Serie B akibat skandal taruhan ilegal yang melibatkan oknum internal klub.
Cobaan berat kembali mendatangi Baresi pada musim 1981-1982 ketika ia harus absen panjang sejak Oktober 1981 hingga Januari 1982 akibat masalah kesehatan serius.
"Itu adalah infeksi darah. Begitu stafilokokus teridentifikasi, mereka menemukan antibiotik yang tepat. Namun pencariannya tidak singkat.
Ketika masih muda Anda berpikir akan sembuh keesokan harinya, tetapi beralih dari lapangan ke kursi roda adalah momen yang sangat sensitif. Saya hampir tidak bisa berjalan karena kesakitan dan saya bertanya-tanya pada diri sendiri," kata Franco Baresi, mantan pemain AC Milan.
Meski AC Milan terdegradasi ke Serie B pada akhir musim tersebut, pelatih Timnas Italia Enzo Bearzot tetap memanggil Baresi ke dalam skuat Piala Dunia 1982 di Spanyol. Baresi kemudian mencatatkan debut resminya bersama Timnas Italia saat ditahan imbang 0-0 oleh Rumania pada kualifikasi Piala Eropa 1984.
Era keemasan Baresi di AC Milan melesat pesat di bawah kepemimpinan Presiden Silvio Berlusconi dan pelatih Arrigo Sacchi yang menerapkan skema taktik garis pertahanan tinggi dan jebakan offside. Puncak kejayaan tercapai saat AC Milan menjuarai Liga Champions usai mengalahkan Real Madrid 5-0 di semifinal dan menundukkan Steaua Bucharest 4-0 di laga final Camp Nou.
Memasuki era kepelatihan Fabio Capello, Baresi memainkan peran penting dalam memberikan masukan taktis terkait penyesuaian strategi tim di lapangan.
"Mari kita lanjutkan dengan 4-4-2 tetapi dengan pressing dan jebakan offside yang lebih terbatas, latihan yang tidak terlalu obsesif seperti sebelumnya, serta sedikit kodifikasi serangan, mengingat lawan sudah mengenal kita," kata Franco Baresi, mantan Kapten AC Milan.
Saran strategis tersebut membuahkan hasil manis dengan raihan empat gelar juara Serie A, satu Supercoppa Eropa, serta tiga trofi Supercoppa Italia bagi AC Milan.