Pasangan Pengantin Laporkan Wedding Organizer Terkait Dugaan Penipuan di Jakarta Timur
Sepasang pengantin bernama Aldi (32) dan Feny (32) melaporkan dugaan penipuan oleh penyelenggara pernikahan atau wedding organizer (WO) ke Polres Metro Jakarta Timur pada Minggu (24/5/2026) malam. Laporan tersebut dilayangkan setelah acara resepsi pernikahan mereka di Bekasi gagal terlaksana tanpa adanya dekorasi maupun hidangan makanan.
Kasus ini bermula ketika korban mengalami kerugian puluhan juta rupiah akibat penyedia jasa yang mendadak tidak dapat dihubungi menjelang hari pernikahan. Seperti dilansir dari Detikcom, pasangan tersebut terpaksa mencari solusi darurat agar prosesi akad nikah tetap bisa berjalan selama satu hingga dua jam dengan bantuan beberapa vendor secara pribadi.
Kecurigaan korban sebenarnya sudah muncul sejak proses persiapan awal yang dinilai tidak profesional. Feny menjelaskan bahwa komunikasi dengan pihak pengelola mulai terasa ganjil saat mereka mengadakan rapat persiapan secara daring.
"Technical meeting cuma sekitar 10 menit dan sangat tidak detail. Saya tanya soal rundown, alur masuk venue, pembagian sesi tamu, semuanya dijawab nanti diinformasikan satu hari sebelum acara (H-1)," jelas Feny, korban dugaan penipuan.
Kekhawatiran tersebut terbukti benar setelah pihak pengelola gedung pertemuan menghubungi korban mengenai adanya kekurangan pembayaran yang belum diselesaikan oleh pihak WO. Korban mencatat total kerugian yang mereka alami mencapai Rp 85,5 juta setelah sebelumnya membayar uang muka melalui informasi paket di media sosial.
"Dari pihak Islamic Center bilang masih kurang pembayaran sekitar Rp 17,5 juta. Ternyata, pihak WO baru bayar DP sekitar Rp6 juta," ujar Feny, korban dugaan penipuan.
Mendengar kabar tersebut, pihak keluarga mencoba mendatangi kantor penyedia jasa menjelang hari pelaksanaan acara. Aldi menyebutkan bahwa mereka justru mendapati kantor yang berlokasi di kawasan Cakung itu sudah dalam keadaan kosong.
"Pas kita datang, ternyata galerinya sudah kosong. Kata orang sekitar, pindah ke Rorotan," ungkap Aldi, korban dugaan penipuan.
Upaya pencarian kemudian dilanjutkan ke lokasi gudang di wilayah Rorotan untuk meminta kejelasan mengenai nasib acara mereka. Pengelola usaha sempat menjanjikan pelunasan pada sore hari dan menandatangani surat pernyataan, namun kemudian pergi meninggalkan lokasi.
"Kita minta kepastian pembayaran karena sudah H-1. Mereka bilang deposito belum cair dan janji akan dibayar jam empat sore," ucap Aldi, korban dugaan penipuan.
Kondisi di lapangan semakin tidak menentu setelah para pekerja katering dan dekorasi mengaku tidak mendapatkan instruksi yang jelas. Akibat ketidakpastian tersebut, sebagian besar pekerja akhirnya memutuskan untuk meninggalkan lokasi acara.
"Kami akhirnya yakin acara resepsi kemungkinan besar tidak akan berjalan," tutur Aldi, korban dugaan penipuan.
Pasangan tersebut akhirnya mendatangi kantor polisi dengan membawa sejumlah dokumen sebagai barang bukti penunjang laporan mereka. Feny memaparkan bahwa transaksi awal dilakukan setelah mereka tertarik dengan promosi yang tertera di akun Instagram resmi penyedia jasa tersebut.
"Awalnya, saya dapat info dari Instagram. Setelah lihat daftar harga (price list) dan paket-paketnya, saya bayar DP dulu. Total kerugian Rp 85,5 juta," kata Feny, korban dugaan penipuan.
Pihak kepolisian sendiri sebelumnya telah mengimbau agar para korban segera membuat laporan resmi agar penyelidikan bisa segera dilakukan. Kepolisian memastikan akan memproses laporan dari pihak-pihak yang dirugikan oleh badan usaha yang bersangkutan.
"Silakan lapor. Calon pengantin yang ada di video Instagram itu rencana baru hari ini mau datang, dilaporkan, kantor WO-nya di Cakung," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur Bayu Kurniawan, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur.
Saat ini, Polres Metro Jakarta Timur menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti laporan terkait dugaan penipuan yang sempat viral di media sosial tersebut.