BMKG Jelaskan Hujan Masih Terjadi Saat Musim Kemarau 2026
Indonesia memasuki musim kemarau 2026, namun BMKG menyatakan beberapa wilayah masih berpotensi turun hujan hingga awal Agustus. Puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September 2026, dengan lebih dari 54 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau, terutama di wilayah selatan khatulistiwa. Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agita Vivi, menjelaskan bahwa walaupun musim kemarau sudah berlangsung, peluang hujan tetap ada di sejumlah wilayah karena pengaruh aktivitas gelombang atmosfer dan sirkulasi siklonik di sekitar Indonesia.
"Meskipun secara umum Indonesia sudah memasuki musim kemarau, peluang terjadinya hujan masih terdapat di beberapa wilayah Indonesia," ujar Agita Vivi.
Agita menjelaskan aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby Ekuatorial serta Kelvin turut mendukung pembentukan awan hujan di wilayah Sumatera dan sekitarnya. "Sirkulasi siklonik diprakirakan terbentuk di Samudra Pasifik sebelah timur Filipina dan di Samudra Pasifik sebelah utara Papua Nugini," tambahnya.
Keberadaan sistem ini menyebabkan daerah konvergensi dan konfluensi yang mendukung penumpukan massa udara dan pembentukan hujan, meskipun kondisi kering masih lebih dominan secara umum. Selain itu, BMKG memperingatkan potensi angin kencang di beberapa perairan Indonesia, yang dapat meningkat hingga memicu gelombang laut tinggi.
Wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang meliputi Laut Andaman, Laut China Selatan, Laut Natuna, dan beberapa perairan di sekitar Lampung, Jawa, Nusa Tenggara Timur, serta kawasan Maluku dan Halmahera. Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan bahwa wilayah yang memasuki musim kemarau sebagian besar berada di Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua. "Sudah 509 zona musim atau 54,5 persen dari luasan wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau," ujar Ardhasena.
Ardhasena menekankan pentingnya antisipasi di sektor pertanian, sumber daya air, energi, dan kesehatan menghadapi musim kemarau yang akan mencapai puncak pada Agustus dan September 2026.
"Cuaca panas selama musim kemarau dapat memicu lonjakan konsumsi energi dan berisiko memicu heatstroke serta penurunan kualitas udara yang berasosiasi dengan penyakit ISPA," tambahnya.