BGN Siapkan Mekanisme Penyaluran MBG ke Daerah Rawan Konflik
Badan Gizi Nasional (BGN) tengah merancang mekanisme penyaluran program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak-anak di daerah rawan konflik pada Rabu (29/7/2026). Langkah ini dilakukan guna memastikan pemenuhan gizi anak-anak di kawasan berisiko tetap terpenuhi, sebagaimana dilansir dari Detik Finance. "Makan bergizi bagi anak-anak di daerah rawan, rawan konflik.
Ini juga sedang kami pikirkan mekanismenya," ujar Kepala BGN Sudaryono dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat. Untuk mengoptimalkan distribusi di wilayah sulit dan berisiko tinggi tersebut, BGN telah melangsungkan sejumlah program percontohan. Pelaksanaan uji coba ini melibatkan kolaborasi langsung dengan pihak TNI dan Polri serta memanfaatkan berbagai tempat pelayanan publik setempat.
"Ada beberapa piloting yang sudah kita lakukan bekerjasama dengan jajaran TNI dan Polri, menggunakan fasilitas ada gereja dan lain-lain. Karena anak-anak di seluruh manapun, ya, Indonesia di manapun khususnya, anak-anak yang memang membutuhkan daerah-daerah rawan konflik, daerah-daerah yang jauh, itu juga harus mendapatkan akses perbaikan gizi yang memang mereka sangat membutuhkan itu, ya," beber Sudaryono.
Selain menyasar kawasan rawan konflik, penyaluran MBG juga difokuskan ke wilayah yang mencatatkan angka stunting tinggi, seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT). BGN mencatat sedikitnya 116 juta orang di Indonesia masih mengalami kekurangan gizi. Berdasarkan pemetaan prevalensi stunting tahun 2024, sebaran daerah mencakup 20 kabupaten/kota kategori terendah, 182 kabupaten/kota kategori sedang, 220 kabupaten/kota kategori tinggi, dan 92 kabupaten/kota kategori sangat tinggi.
"Enggak hanya Papua, di, NTT, kemudian di Maluku, di mana-mana, ini semua ada petanya, kita mau perbaiki ke situ. Kita mau perbaiki yang memang harus penting dan genting harus diperbaiki," jelasnya.