Aplikasi Perbankan Digital Akselerasi Budaya Menabung Generasi Muda
Aplikasi perbankan digital mencatatkan pergeseran strategi pengelolaan keuangan generasi muda melalui pemanfaatan fitur kantong tabungan sejak hari pertama menerima gaji pada Senin (27/7/2026). Langkah ini diambil guna memisahkan alokasi dana secara spesifik demi membiayai berbagai kebutuhan personal secara terencana.
Peningkatan fleksibilitas layanan seperti bluSaving dan bluGether pada aplikasi blu by BCA Digital dipicu oleh tingginya kenaikan biaya hidup serta fluktuasi pendapatan harian maupun bulanan. Saat ini platform tersebut telah menjangkau lebih dari tiga juta nasabah yang didominasi oleh kelompok usia muda.
Perencana Keuangan OneShildt, Budi Rahardjo, menilai pemisahan dana berbasis skema kantong efektif mempermudah pemantauan arus kas sekaligus meminimalisasi penggunaan uang secara konsumtif.
"Cara membagi uang sesuai tujuan penggunaannya ini justru sudah sangat baik. Dengan pemisahan, kita lebih mudah melakukan monitoring pertumbuhannya dan melindungi dana dari penggunaan konsumsi lainnya," kata Budi Rahardjo, Perencana Keuangan OneShildt.
Penggunaan teknologi perbankan perlu diimbangi dengan tingkat pemahaman finansial dasar yang kuat agar penerapan alokasi anggaran tetap ideal.
"Aturan dasar 50:30:20 adalah cara paling mudah untuk pemula. Sebanyak 50% untuk kebutuhan rutin, 30% untuk keinginan dan cicilan, serta 20% untuk investasi dan proteksi," kata Budi Rahardjo, Perencana Keuangan OneShildt.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menyoroti bahwa tekanan ketidakpastian ekonomi berisiko mendorong pekerja muda ke dalam perilaku konsumsi yang tidak terarah.
"Kalau sudah merasa tidak mungkin membeli rumah, akhirnya uang justru dihabiskan untuk jalan-jalan, konser, atau kebutuhan tersier. Ini yang disebut doom spending," kata Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS.
Seorang karyawan swasta di Jakarta, Dinda Prameswari (26), mengaku memanfaatkan fitur sistem pos tabungan bluSaving untuk mengamankan kebutuhan jangka panjang agar tidak terpakai kebutuhan harian.
"Begitu gaji masuk, saya langsung bagi dulu. Saya sengaja bikin beberapa bluSaving supaya uangnya tidak bercampur. Jadi saya tahu mana uang yang memang boleh dipakai, mana yang memang harus disimpan," kata Dinda Prameswari, Karyawan Swasta.
Pengalaman buruk kerap dialaminya sebelum menggunakan sistem pemisahan rekening secara spesifik.
"Setelah saya ingat-ingat lagi, sebagian sebenarnya buat biaya kuliah atau dana darurat. Karena semuanya campur, saya jadi sering mengambil uang yang seharusnya tidak dipakai," kata Dinda Prameswari, Karyawan Swasta.
Pengendalian pengeluaran kini dilakukan secara ketat dengan menyesuaikan ketersediaan saldo pada pos yang ditentukan.
"Kalau saldonya belum cukup, berarti memang belum waktunya berangkat. Saya jadi tidak mengambil uang dari tabungan rumah atau dana darurat," kata Dinda Prameswari, Karyawan Swasta.
Metode ini terbukti konsisten membantu penjagaan fokus terhadap target keuangan jangka panjang.
"Sekarang saya tidak lagi melihat saldo. Saya melihat mimpi," kata Dinda Prameswari, Karyawan Swasta.
Pola serupa diterapkan oleh videografer freelance, Rizky Ananda (28), untuk mengelola pendapatan proyek yang tidak menentu.
"Dulu semua pembayaran proyek masuk ke rekening yang sama. Lama-lama saya bingung mana uang buat kebutuhan pribadi, mana yang harus dipakai beli alat kerja atau membayar editor," kata Rizky Ananda, Videografer Freelance.
Pemisahan pos anggaran dinilai ampuh menjaga stabilitas modal kerja operasional harian.
"Penghasilan saya memang tidak selalu sama setiap bulan. Tapi sekarang saya jauh lebih tenang karena setiap uang yang masuk sudah punya tujuan," kata Rizky Ananda, Videografer Freelance.
Head of Digital Business blu by BCA Digital, Edwin Tirta, menyatakan bahwa kebiasaan menyimpan uang kini bertransformasi menjadi aktivitas sosial yang fungsional.
"Selama lima tahun hadir, kami melihat menabung telah bergeser jadi momen kolaboratif. Melalui fitur seperti bluGether dan bluSaving, kami ingin memberikan ruang yang fungsional sekaligus personal," kata Edwin Tirta, Head of Digital Business blu by BCA Digital.
Penyediaan dana pengaman darurat tetap wajib menjadi prioritas utama pengguna dalam perencanaan arus kas.
"Kami juga mengajak Sobatblu untuk tak lupa menyisihkan dana keamanan dengan membuat kantong Emergency Fund di blu agar arus kas tetap sehat dan terjaga," kata Edwin Tirta, Head of Digital Business blu by BCA Digital.
Head of Marketing & Communications BCA Digital, Ruli Himawan, menekankan pentingnya integrasi instrumen investasi ke dalam gaya hidup harian anak muda.
"Dulu investasi dianggap mahal dan ribet. Sekarang banyak anak muda memilih mulai dari langkah kecil tapi konsisten. Lewat bluInvest kami ingin memastikan langkah itu terasa ringan, relevan, dan bisa dilakukan siapa saja," kata Ruli Himawan, Head of Marketing & Communications BCA Digital.
Kemudahan akses dianggap sebagai pendorong utama pembentukan kebiasaan finansial yang sehat dan berkelanjutan.
"Harapan kami, bluInvest bisa menjadi solusi nyata yang memberdayakan generasi muda untuk memulai dan mempertahankan kebiasaan investasi yang sehat. Kami ingin memastikan bahwa berinvestasi bisa semudah aktivitas digital Sobatblu sehari-hari," kata Ruli Himawan, Head of Marketing & Communications BCA Digital.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor reksa dana tumbuh 9,71% hingga Juni 2026, dengan 54,12% di antaranya didominasi investor berusia di bawah 30 tahun yang menghimpun total aset senilai Rp44,84 triliun.