Andoni Iraola Targetkan Bournemouth Petik Poin Kontra Manchester City
Manajer Bournemouth Andoni Iraola mengusung ambisi besar untuk mengamankan poin minimal satu angka saat menjamu Manchester City pada laga pekan ke-37 Liga Inggris di Stadion Vitality pada Rabu, 20 Mei 2026 pukul 01.30 WIB. Pertandingan krusial ini menjadi penentu bagi tim tamu yang wajib menang demi mengejar Arsenal di puncak klasemen, sementara tuan rumah berjuang menyegel tiket kompetisi Eropa.
Bournemouth saat ini menempati peringkat keenam klasemen sementara dengan raihan 55 poin dan mencatatkan rekor impresif berupa 16 pertandingan beruntun tanpa kekalahan di kompetisi domestik. Berdasarkan laporan BBC, skuad berjuluk The Cherries ini hanya terpaut empat angka dari Liverpool di zona lima besar dan unggul empat poin dari Sunderland di posisi kesembilan.
Pertandingan ini juga menjadi momen emosional bagi Andoni Iraola yang telah memutuskan untuk hengkang pada musim depan setelah tiga tahun melatih di Stadion Vitality.
"Kami hanya butuh satu poin lagi – saya rasa kami sudah siap…semua orang ingin berjuang dan semua orang ingin bermain," ujar Iraola seperti dikutip dari BBC.
Iraola menambahkan bahwa skuadnya sangat menyadari performa impresif tim lawan yang baru saja meraih trofi dan tengah bersaing ketat dalam perebutan gelar juara liga musim ini.
"Kami sudah dekat, tetapi kami masih belum meraihnya. Kami membutuhkan satu poin lagi, tetapi itu tidak akan mudah."
"[Manchester] City sedang dalam performa bagus setelah meraih trofi dan mereka juga berjuang untuk gelar liga, tetapi kami siap," kata Iraola.
Pelatih asal Spanyol tersebut menegaskan keinginannya untuk mempersembahkan kelolosan ke kompetisi Eropa sebagai hadiah perpisahan yang indah bagi para pendukung Bournemouth.
"Setelah tiga musim yang indah ini di mana saya sangat menikmatinya, mengakhiri musim dengan kualifikasi Eropa akan menjadi hal yang luar biasa."
"Kami memiliki begitu many momen bagus sehingga ini akan menjadi spesial," tutur Iraola.
Iraola juga mengakui fokusnya saat ini sepenuhnya tercurah pada strategi permainan yang sangat sulit sehingga ia mengesampingkan emosi pribadinya menjelang laga kandang pamungkasnya.
"Karena pertandingannya sangat sulit, dan Anda harus mempersiapkan diri dengan sangat baik dan saya memikirkan begitu banyak hal, saya tidak memikirkan sisi emosional dari pertandingan terakhir saya."
"Tapi, saya pikir di akhir pertandingan besok akan menjadi momen yang sulit," jelas Iraola.
Di kubu tim tamu, manajer Manchester City Pep Guardiola dibayangi kelelahan fisik skuadnya yang baru saja melakoni laga final Piala FA, sementara Bournemouth memiliki waktu persiapan lebih dari satu minggu. Dilansir dari Manchester Evening News, Guardiola menganalogi sulitnya bermain di Stadion Vitality seperti sedang duduk di kursi dokter gigi yang tidak memberikan ruang untuk bernapas.
"I've often used it as an analogy for how difficult it is. They don't let you breathe," kata Guardiola.
Guardiola memprediksi sang lawan akan tampil jauh lebih menuntut karena memiliki waktu istirahat yang ideal untuk mematangkan taktik pertandingan.
"When a team is so intense, always when the fatigue comes in the amount of games, they can reduce a little bit this tempo. But with 10 days to prepare that game, I expect a more intense, aggressive and demanding team. And then you have to be smart to read what you have to do."
Lebih lanjut, Guardiola menegaskan bahwa kegagalan meraih poin penuh di markas Bournemouth sama saja dengan menyerahkan trofi juara Premier League secara langsung kepada sang rival, Arsenal.
"We know if we don't win at Bournemouth, we will congratulate Arsenal. We would like to arrive where it's Crystal Palace away for them."
Manajer asal Spanyol tersebut berharap bisa memperpanjang napas persaingan juara hingga hari terakhir liga saat mereka menjamu Aston Villa asuhan Unai Emery di hadapan publik sendiri.
"We play at home – I wouldn't say Aston Villa is easy – in fact it's completely the opposite. Unai (Emery) is extraordinary and exceptional. But we would love it if on Sunday our people can come at 3pm and maybe what happens at Selhurst Park will be nice."
Guardiola juga termotivasi oleh memori kejayaan masa lalunya bersama mendiang Johan Cruyff di Barcelona yang sukses membalikkan keadaan pada laga-laga penentu juara.
"So we will try to extend it three four or five days and keep the hope that maybe we can win the Premier League again. That is what we are aiming for but we know the task will be so difficult."
Meskipun lebih menyukai nasib tim ditentukan oleh hasil sendiri, Guardiola meminta para pemain Manchester City fokus memenangkan laga sisa dan bersiap menerima apa pun hasil akhirnya.
"Always I prefer when it's in our hands because you don't have to take a look [at other results] after. Always it's better to depend on us. But the ideal situation never exists," kata Guardiola.
Guardiola juga menyoroti pencapaian luar biasa skuadnya yang mampu tetap kompetitif di jalur juara hingga akhir musim meskipun harus melakukan banyak rotasi pemain sepanjang kompetisi.
"If we arrive with nine new players, playing a lot of minutes, being at the end and being there is really good. Once we are here, why not extend one more week, a few more days. But I prefer it to be in our control. When it depends on the other ones, it's something you cannot do. But you never know. The important thing is to be there."
Pada paragraf penutup, Guardiola kembali mengutip wejangan ikonik dari Johan Cruyff untuk tidak membuang kesempatan juara akibat kelalaian internal tim sendiri.
"I remember Johan Cruyff before those games said, 'Win our games, it's not in our hands,' but we cannot lose the Premier League because they don't win and we don't win. That just cannot happen. We have to. Let's win the game to arrive at the last chance and after that, guys, win our game. After that, it's not in our control. Wait," pungkas Guardiola.