Kementerian Kebudayaan Dorong Permainan Tradisional Anak
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menghadiri Festival Generasi Berani Exploring – Biarkan Mereka Berlari pada Minggu (26/7/2026) untuk mendorong pengenalan kembali permainan tradisional kepada anak-anak, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Komunitas Hong menyajikan beragam permainan rakyat seperti congklak, gasing, bekel, dan dam-daman. Langkah ini bertujuan memajukan kebudayaan sekaligus membina karakter generasi muda.
Fadli Zon menegaskan bahwa permainan tradisional merupakan bagian dari objek Pemajuan Kebudayaan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017. Kegiatan ini diarahkan untuk membentuk kedisiplinan dan kebersamaan sejak dini.
"Permainan tradisional merupakan salah satu objek Pemajuan Kebudayaan yang harus terus kita hidupkan. Di tengah perkembangan teknologi digital, anak-anak tetap memerlukan ruang untuk bermain, berinteraksi, belajar bekerja sama, dan mengenal nilai-nilai luhur bangsa melalui pengalaman nyata," ungkap Fadli dalam keterangan tertulis, Minggu (26/7/2026).
Pemerintah juga merencanakan dokumentasi dan registrasi ribuan permainan rakyat dari berbagai wilayah di Indonesia. Program ini mencakup sarana fisik berupa museum khusus.
"Kementerian Kebudayaan tengah mengembangkan berbagai langkah untuk mendokumentasikan, meregistrasi, serta memperkenalkannya kembali kepada masyarakat, termasuk melalui rencana pengembangan museum permainan tradisional Indonesia. Kolaborasi yang kita lakukan hari ini menjadi langkah penting agar anak-anak kembali akrab dengan permainan yang membentuk karakter, kejujuran, kebersamaan, dan semangat gotong royong," tambah Fadli Zon.
Upaya pelestarian kebudayaan lokal ini diselaraskan dengan strategi perlindungan anak dari dampak negatif gawai. Penyelenggara turut meluncurkan Buku Saku Inspirasi Aktivitas Anak dan Keluarga sebagai panduan berkegiatan positif.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid turut menyoroti pentingnya keseimbangan antara ruang digital dan aktivitas fisik langsung bagi anak-anak.
"Kita ingin menghadirkan generasi yang tumbuh melalui pengalaman, bukan hanya dari layar digital. Karena itu, perlindungan di ruang digital harus dibarengi dengan semakin banyak kesempatan bagi anak-anak untuk bermain, bergerak, berinteraksi, dan mengenal budaya lokal yang menjadi bagian dari pembentukan karakter mereka," ungkapnya.
Inisiatif ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2026 sekaligus mendukung Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS).