Pelanggan Protes Biaya Kemasan Takeaway Warung Makan Singapura

Share

Penambahan tarif bungkus makanan tanpa pemberitahuan awal memicu kejengkelan seorang pembeli di Singapura. Tagihan ekstra tersebut baru diketahui setelah pesanan rampung dibuat oleh pihak penjual.

Kekesalan tersebut mencuat usai asisten rumah tangga (ART) milik pelanggan itu membeli makanan dekat Aljunied Medical Centre, Singapura. ART tersebut meminta pesanan dibungkus untuk dibawa pulang, seperti dilansir dari Detik Food.

Pihak warung menagih biaya tambahan sebesar 50 sen atau sekitar Rp 6.945 untuk wadah takeaway tersebut, melansir laporan theindependent.sg pada 17 Juli.

Melalui unggahan di media sosial Facebook, sang pelanggan menilai perlu adanya penetapan tarif seragam untuk wadah pembungkus makanan agar penjual tidak mengambil keuntungan berlebihan.

"Saya pikir seharusnya ada harga standar untuk kotak makanan bawa pulang daripada membiarkan penjual mengambil keuntungan berlebihan," ujarnya.

Unggahan itu memicu beragam tanggapan dari para pengguna internet. Seorang netizen menyebut biaya wadah bungkus dahulu hanya bernilai 30 sen atau Rp 4.163, tetapi kini melonjak menjadi 50 sen hingga 1 SGD setara Rp 13.872.

"Sekarang ini tidak ada yang gratis. Semuanya dikenakan biaya sesuai kebutuhan," ujar netizen lain.

Beberapa warganet menyarankan agar konsumen membawa tempat makan sendiri demi menekan pengeluaran serta mengurangi limbah plastik sekali pakai.

"Bawalah wadah bersih yang dapat digunakan kembali, itu yang terbaik. Anda yang menentukan biayanya, dan Anda menyelamatkan lingkungan dengan meminimalkan penggunaan wadah sekali pakai," jelas netizen itu.

Meski wadah plastik tertentu bisa dicuci dan dipakai ulang hingga 2-3 kali, sejumlah pembeli mengaku ada pedagang yang menolak wadah dari luar.

"Pedagang kaki lima tidak menerima wadah sendiri, alasannya wadah sendiri mungkin terkontaminasi…. Itu omong kosong," ungkap seorang netizen.

Sebagian konsumen menyatakan tidak keberatan membayar biaya wadah selama penjual tidak memanfaatkannya sebagai celah mengambil untung secara sepihak. Kenaikan harga bahan baku memang memaksa pedagang menaikkan tarif, namun keterbukaan informasi di awal tetap menjadi kunci untuk mencegah perselisihan.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Berita Viral kuliner Singapura
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author