Konflik AS-Iran Memanas Usai Tiga Tentara Amerika Serikat Tewas

Share

Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran semakin meningkat di Timur Tengah setelah tiga anggota militer AS dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan pesawat nirawak dan rudal terpisah yang terjadi hingga Senin, 20 Juli 2026.

Dilansir dari CNN, korban tewas ketiga merupakan seorang tentara yang gugur di Irak utara akibat ledakan terkendali dari drone Iran yang jatuh. Sementara itu, serangan terpisah dari pihak Iran menyebabkan dua tentara AS tewas dan satu personel lainnya dinyatakan hilang dalam tugas.

Departemen Pertahanan AS telah mengidentifikasi dua prajurit yang tewas akibat serangan Iran di Yordania pada hari Jumat lalu. Mereka adalah Letnan Satu Tyler James Feehan (25) asal Ewa Beach, Hawaii, yang mengembuskan napas terakhir pada Sabtu, serta Prajurit Isabella Gonzales (19) asal Carrollton, Texas, yang tewas pada Jumat di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania.

Pertempuran yang telah berlangsung lebih dari sepekan ini memicu kekhawatiran global setelah harga minyak mentah Brent melonjak melampaui 90 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir. Dampak ekonomi juga memukul sektor penerbangan, di mana maskapai Ryanair melaporkan penurunan laba bersih sebesar 34 persen menjadi 538 juta euro pada kuartal yang berakhir Juni akibat lonjakan biaya bahan bakar.

Di tengah eskalasi militer yang ditandai dengan serangan udara AS selama sembilan malam berturut-turut, kedua belah pihak menyatakan masih membuka ruang bagi jalur diplomasi meskipun Iran menegaskan pembatalan implementasi nota kesepahaman (MoU) yang disepakati bulan lalu.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pada Minggu malam bahwa Washington tetap mengupayakan solusi damai jangka panjang dengan Teheran.

"(Iranian officials) continue to send signals that they want to talk, that they want to negotiate, but their behavior is what we’re responding to," kata Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS kepada wartawan.

Ia menambahkan bahwa sinyal keinginan berdialog tersebut diterima secara langsung maupun melalui perantara negara lain.

"remains open to a diplomatic solution." ujar Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS mengenai posisi pemerintahan Donald Trump terkait konflik ini.

Di pihak lawan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan pada Senin bahwa Teheran tidak akan menjalankan nota kesepahaman yang telah ditandatangani karena menilai Washington telah melanggarnya.

"The other side not only failed to implement it, but violated it and acted contrary to both its text and its spirit," kata Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran kepada awak media.

Baghaei mengklaim bahwa pelanggaran komitmen timbal balik oleh pihak AS membuat implementasi perjanjian menjadi tidak mungkin dilakukan.

"We, in turn, announced that we would not implement it. That is entirely clear," ujar Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Kendati demikian, pihak Iran mengisyaratkan bahwa negosiasi ulang masih berpeluang dilakukan melalui mediator aktif seperti Qatar dan Pakistan.

"I think, regardless of the wording one chooses, it is clear what state this document is now in," tutur Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengenai status terkini MoU tersebut.

Di sisi lain, sektor bisnis penerbangan merespons dampak konflik ini dengan penyesuaian tarif demi menjaga minat penumpang.

"as the Middle East conflict led to consumer hesitancy, concerns about EU jet-fuel shortages, economic uncertainty and later bookings," kata Michael O’Leary, CEO Ryanair dalam pernyataan tertulisnya mengenai penyebab penurunan tarif rata-bandara sebesar 6 persen.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author