Batasi Waktu Layar Anak demi Mencegah Penurunan Kemampuan Kognitif
Kebiasaan menonton televisi atau bermain gawai kini semakin sulit dipisahkan dari kehidupan anak-anak. Jika tidak dikendalikan dengan ketat, aktivitas digital ini berisiko mengganggu proses tumbuh kembang buah hati secara optimal.
Tayangan layar memang dirancang memikat melalui visual dan audio yang dinamis. Namun, orang tua perlu mewaspadai dampak jangka panjang dari paparan perangkat elektronik ini terhadap kecerdasan anak.
Para pakar kesehatan anak memberikan perhatian serius terhadap fenomena ini, seperti dilansir dari HaiBunda. Lebih dari 1.400 penelitian telah dilakukan untuk menguji korelasi antara durasi layar (screen time) dengan perkembangan anak.
Data di Amerika Serikat menunjukkan lonjakan durasi menatap layar yang cukup signifikan. Anak-anak di bawah usia 8 tahun kini menghabiskan waktu rata-rata 2 jam 19 menit per hari di depan layar, meningkat hampir setengah jam sejak 2011.
Paparan gawai ini bahkan sudah dimulai sejak usia yang sangat dini. Balita di bawah usia dua tahun tercatat sudah menghabiskan waktu rata-rata 42 menit setiap hari di depan layar.
Sebanyak 92,2 persen anak berusia satu tahun bahkan dilaporkan sudah pernah menggunakan ponsel. Padahal, para dokter anak sangat tidak menyarankan penggunaan televisi atau aplikasi digital sebelum anak menginjak usia 18 bulan.
Studi di Kanada terhadap lebih dari 4,5 ribu anak usia 8 hingga 11 tahun menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Hanya sekitar lima persen anak yang mampu memenuhi pedoman ideal terkait waktu tidur, durasi layar, dan aktivitas fisik.
Sebaliknya, ada 30 persen anak yang sama sekali tidak memenuhi satu pun dari ketiga panduan kesehatan tersebut. Rata-rata anak dalam penelitian ini menghabiskan waktu di depan layar hingga 3,6 jam per hari.
Anak-anak yang terpapar layar lebih dari dua jam sehari terbukti memiliki skor kognitif yang lebih rendah. Penurunan ini terutama terlihat pada aspek kemampuan berbahasa, memori, perhatian, serta kecepatan memproses informasi.
"Lebih dari dua jam sehari menghabiskan waktu di depan layar tampaknya menurunkan perkembangan kognitif," kata salah satu penulis studi tersebut, Dr. Jeremy Walsh.
Dikutip dari Futura Sciences, Dr. Jeremy Walsh mendesak orang tua, dokter anak, dan tenaga pendidik untuk memprioritaskan waktu tidur serta batasan durasi layar bagi anak.
Anak-anak usia dini membutuhkan stimulasi aktif melalui gerakan fisik, permainan mandiri, serta interaksi sosial secara langsung. Aktivitas pasif seperti menonton televisi akan memangkas kesempatan anak untuk mendapatkan stimulasi penting tersebut.
Suara televisi yang menyala sebagai latar belakang atau backsound tetap memicu dampak negatif. Kebisingan ini mengganggu konsentrasi bayi usia 2-4 bulan yang sedang aktif belajar mengenali kata dan bahasa.
Gangguan suara konstan dari televisi membuat bayi kesulitan membedakan suara di sekelilingnya. Akibatnya, perkembangan kemampuan berbahasa anak berpotensi terhambat sejak dini.
Seorang peneliti dari CNRS Prancis, Michel Desmurget, menyatakan bahwa paparan layar yang berlebihan dapat menurunkan kapasitas mental anak. Temuan ini selaras dengan studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics.
Penelitian pada anak usia 3-5 tahun menunjukkan bahwa intensitas screen time yang tinggi berkorelasi dengan rendahnya kemampuan bahasa. Anak-anak tersebut memiliki kosakata terbatas dan memori visual yang kurang optimal.
Studi berskala besar oleh National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat turut memperkuat kekhawatiran ini. Penelitian tersebut melibatkan 11 ribu anak usia 9-10 tahun untuk memantau dampak gawai pada struktur otak.
Hasil pemindaian menunjukkan adanya indikasi penipisan korteks otak lebih dini pada anak yang menatap layar lebih dari tujuh jam sehari. Kondisi penipisan struktur ini umumnya diidentifikasi sebagai bagian dari proses penuaan.
Langkah Mengurangi Ketergantungan Layar pada Anak
Orang tua disarankan untuk meningkatkan kuantitas interaksi tatap muka guna mengalihkan perhatian anak dari layar. Upaya ini dapat disisipkan dalam rutinitas harian tanpa harus menyita waktu khusus.
Para ahli melalui laman Parents membagikan beberapa metode sederhana yang bisa diterapkan di rumah. Salah satunya adalah membiasakan aktivitas membaca buku bersama anak secara lantang untuk memperkaya kosakata.
Mengajak anak bernyanyi bersama juga efektif merangsang kinerja otak. Ritme serta nada di dalam lagu membantu anak mengenali bahasa dan struktur suara dengan lebih menyenangkan.
Orang tua juga dapat menarasikan aktivitas sehari-hari, seperti saat memandikan anak atau mengganti popok. Selain itu, sesekali biarkan anak mendengarkan percakapan langsung antarorang dewasa untuk melatih kepekaan sosial dan ekspresi mereka.