Amerika Serikat dan Iran Negosiasikan Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Pemerintah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan semakin dekat untuk mencapai kesepakatan guna membuka kembali Selat Hormuz dalam negosiasi yang berlangsung pada Minggu (24/5/2026), seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Meskipun kemajuan dilaporkan terjadi, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan terburu-buru meresmikan perjanjian tersebut karena draf kesepakatan masih berpotensi gagal terkait sejumlah klausul krusial, termasuk tuntutan pencairan aset Teheran.
Trump menjelaskan bahwa blokade militer AS di Selat Hormuz tetap berlaku sampai dokumen final ditandatangani oleh kedua belah pihak agar kesepakatan berjalan dengan benar.
"Hubungan kami dengan Iran kini menjadi jauh lebih profesional dan produktif," tulis Trump, Presiden Amerika Serikat melalui media sosial pada hari Minggu.
Ia mengingatkan pihak Teheran mengenai batasan pengembangan senjata militer yang menjadi perhatian utama negaranya.
"Namun, mereka harus memahami bahwa mereka tidak boleh mengembangkan atau memiliki senjata atau bom nuklir," tambah Trump, Presiden Amerika Serikat.
Sementara itu, pihak Teheran melalui media lokal menyatakan posisi mereka yang menolak kepemilikan senjata pemusnah massal tersebut.
"Kami siap meyakinkan dunia dalam pembicaraan apa pun bahwa kami tidak mencari senjata nuklir," ungkap Masoud Pezeshkian, Presiden Iran seperti dikutip oleh Student News Network pada hari Minggu.
Pezeshkian juga menegaskan komitmen negaranya terhadap stabilitas keamanan di wilayah Timur Tengah.
"Kami tidak menginginkan adanya ketidakstabilan di kawasan," kata Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ikut memberikan pernyataan terkait keterlibatan negaranya dalam memantau perkembangan perundingan tersebut.
"Presiden Trump juga menegaskan kembali hak Israel untuk membela diri dari ancaman di setiap lini pertempuran, termasuk Lebanon," kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel dalam unggahannya di platform X.
Komentar juga datang dari internal legislatif AS, di mana Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS Roger Wicker memberikan kritik tajam sebelum Trump mengunggah pernyataannya.
"Gencatan senjata baru akan menjadi bencana. Semua yang telah dicapai melalui Operation Epic Fury akan menjadi sia-sia!" tulis Roger Wicker, Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS di media sosial pada hari Sabtu.
Menanggapi perbandingan negatif dari para politisi Republik mengenai draf ini dengan perjanjian tahun 2015, Trump langsung memberikan bantahan keras.
"Perjanjian itu adalah jalur langsung bagi Iran untuk mengembangkan Senjata Nuklir," tulis Trump, Presiden Amerika Serikat mengenai kesepakatan era Barack Obama tersebut.
Trump memastikan bahwa proses diplomasi yang sedang berjalan di bawah pemerintahannya saat ini memiliki arah kebijakan yang sangat berbeda.
"Tidak demikian dengan transaksi yang saat ini sedang dinegosiasikan dengan Iran oleh Pemerintahan Trump—justru kebalikannya yang terjadi!" tegas Trump, Presiden Amerika Serikat.