Indonesia dan China Kembangkan Vaksin Dengue Berteknologi mRNA
Indonesia berkolaborasi dengan China dalam mengembangkan vaksin demam berdarah dengue (DBD) mutakhir menggunakan teknologi mRNA berbasis strain virus asli tanah air, seperti dilansir dari Detikcom pada Selasa (14/7/2026).
Proyek kesehatan ini melibatkan riset bersama antara Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University asal Tiongkok, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia untuk mengatasi tingginya kasus DBD nasional.
"Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia," ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Pengembangan vaksin baru ini diprioritaskan pemerintah berdasarkan beban insiden penyakit dan angka kematian tertinggi, di mana data Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 151 ribu kasus dengue dengan 650 kematian per tahun.
"Target saya, sebelum tahun 2030, ke-11 antigen sisanya harus bisa kita produksi utuh dari hulu ke hilir," tegas Budi Gunadi Sadikin mengenai target kemandirian produksi antigen nasional.
Langkah ini merupakan bagian dari evaluasi pandemi COVID-19 yang menyadarkan pemerintah akan pentingnya membangun fasilitas riset sendiri guna menghindari ketergantungan kebutuhan medis darurat dari luar negeri.
"Kami memprioritaskan pengembangan vaksin baru berdasarkan beban insiden dan angka kematian tertinggi. Ibu-ibu tentu tidak ingin anaknya disuntik terlalu banyak jenis vaksin, jadi kita pilih yang benar-benar prioritas," jelas Budi Gunadi Sadikin.
Proses perancangan kandidat vaksin dipimpin oleh Pusat Penelitian Penyakit Menular dan Imunologi (IDIRC) IMERI FKUI di bawah arahan Prof. Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D. sejak tahun 2023.
"Kami berharap inovasi ini dapat memberikan solusi terhadap tingginya beban penyakit demam berdarah di Indonesia dan secara global," kata Beti Ernawati Dewi.