Amerika Serikat Gempur Iran Pascaserangan Kapal Dagang di Selat Hormuz

Share

Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap puluhan sasaran di Iran setelah Teheran menyerang sedikitnya tiga kapal dagang di Selat Hormuz pada Selasa pekan lalu. Insiden tersebut memicu pencabutan pengecualian sanksi ekspor minyak Iran oleh Washington, seperti dilansir dari Detikcom.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menggempur lebih dari 80 sasaran pada Rabu lalu, termasuk sistem pertahanan udara dan 60 kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Gelombang serangan berlanjut pada Kamis dengan menyasar sekitar 90 target tambahan di wilayah Iran.

"membebankan biaya yang sangat besar atas penargetan dan penyerangan terhadap kapal dagang yang diawaki warga sipil tak bersalah di jalur pelayaran internasional." sebut CENTCOM terkait tujuan operasi militer tersebut.

Eskalasi ini memicu serangan balasan berupa peluncuran rudal Iran ke sejumlah negara Teluk, termasuk Bahrain dan Kuwait. Perusahaan keamanan maritim MARISKS memperingatkan bahwa aksi saling balas ini menandakan kembalinya konfrontasi militer secara langsung antar kedua belah pihak.

"menggerus fondasi politik" kata MARISKS mengenai dampak pencabutan pengecualian sanksi.

Perusahaan intelijen maritim tersebut juga memberikan peringatan mengenai risiko konflik ke depan.

"kemungkinan terjadinya eskalasi lebih lanjut meningkat secara signifikan." tegas MARISKS.

Di sisi lain, ketegangan ini membuat nota kesepahaman yang baru disepakati bulan lalu dinyatakan tidak berlaku lagi oleh pihak Gedung Putih.

"sudah berakhir." kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjelang KTT NATO di Turki.

Trump juga menegaskan sikapnya terhadap negosiasi dengan pemerintah Teheran saat ini.

"Berurusan dengan mereka [Teheran] hanya membuang-bahang waktu." tambah Donald Trump.

Kendati demikian, Trump mengindikasikan bahwa jalur komunikasi diplomasi kemungkinan masih tetap terbuka.

"orang-orang yang sakit" cetus Donald Trump mengenai para pemimpin Iran.

Respons keras juga datang dari parlemen Iran yang menyatakan tidak akan tunduk pada tekanan luar.

"Era intimidasi dan pemerasan telah berakhir. Cara itu tidak akan membawa hasil. Kami tidak akan menyerah." tulis Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf di media sosial X.

Akibat ketegangan di jalur logistik strategis ini, harga minyak dunia langsung melonjak sebesar 5 persen. Peneliti menilai tindakan militer AS tidak akan mengubah arah kebijakan strategis Teheran secara instan.

"Sebaliknya, langkah itu justru berisiko menjauhkan kedua pihak dari hasil perundingan yang … tampaknya masih menjadi pilihan Washington maupun Teheran," tulis Dennis Citrinowicz, peneliti tamu di lembaga kajian Atlantic Council melalui akun X.

Saat ini, Cina, Qatar, dan Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyerukan deeskalasi konflik dan mendesak penghentian provokasi. Secara ekonomi, perang ini telah menimbulkan kerugian sebesar 144 miliar dolar AS bagi Iran, serta melonjakkan inflasi negara tersebut hingga melampaui 88 persen.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author