BMKG Petakan Perluasan Wilayah Musim Kemarau di Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa hampir separuh wilayah Indonesia, atau sekitar 48,9 persen yang mencakup 342 Zona Musim, telah memasuki musim kemarau pada awal Juli 2026 akibat pengaruh fenomena El Nino yang masih bertahan.
Kondisi ini memicu penurunan curah hujan secara signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia, dengan 92,64 persen area berpotensi mengalami curah hujan rendah di bawah 50 mm per dasarian. Data pemantauan Hari Tanpa Hujan menunjukkan 329 titik pengamatan mencatat kategori sangat panjang hingga 60 hari.
Sebagai dampak dari perluasan ini, BMKG merilis peringatan dini kekeringan meteorologis yang berlaku pada 13 hingga 20 Juli 2026. Di Provinsi Banten, Kabupaten Serang berstatus Siaga, sementara Kabupaten Lebak dan Pandeglang berstatus Waspada terhadap ancaman penurunan ketersediaan air bersih dan karhutla.
Peringatan kewaspadaan serupa juga diterapkan untuk wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Fenomena ini diperkuat oleh aliran udara kering dari Samudra Hindia bagian selatan Jawa hingga Nusa Tenggara.
"Musim kemarau yang semakin meluas ini didukung dengan masih bertahannya Fenomena El Niño di Samudra Pasifik, terlihat dari indeks Niño 3.4 sebesar +1,25 serta Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -24,7, sehingga potensi pengurangan curah hujan di wilayah Indonesia semakin tinggi," jelas BMKG dalam rilis Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan Periode 10-16 Juli.
Lembaga tersebut menambahkan bahwa sebaran hujan kategori tinggi diproyeksikan hanya mencakup 0,04 persen wilayah, sedangkan kategori menengah mencapai 7,32 persen. Akibatnya, pasokan air di Pulau Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua menjadi sangat terbatas.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa pada Dasarian II Juli 2026, potensi hujan di banyak wilayah Indonesia relatif terbatas," jelas BMKG.
Meskipun demikian, terdapat variasi cuaca lokal yang sempat memicu hujan lebat hingga 84 mm per hari di Kalimantan Utara pada awal Juni lalu. Fenomena regional ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer, termasuk keberadaan Aktivitas Madden-Julian Oscillation dan Siklon Tropis Bavi kategori 4.
"Indikasi meluasnya musim kemarau terlihat dari 48,9 persen wilayah Indonesia atau sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) yang telah memasuki musim kemarau pada awal Juli 2026, 11,3 persen lebih banyak dibandingkan dasarian sebelumnya," jelas BMKG dalam laman resmi, Jumat, 10 Juli 2026.
Melalui laporan tertulisnya, lembaga meteorologi tersebut mengimbau warga untuk menghemat penggunaan air bersih demi mengantisipasi dampak kemarau yang semakin meluas. Pihak berwenang memastikan pembaruan data cuaca secara berkala.
"Sehingga meskipun lokasinya cukup jauh dari wilayah Indonesia, siklon tropis ini tetap memberikan dampak tidak langsung di sebagian wilayah, khususnya Indonesia bagian utara," kata BMKG.
"BMKG mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara hemat, memanfaatkan sumber daya air secara bijak, meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, serta terus memantau informasi cuaca dan iklim terbaru melalui kanal resmi BMKG," jelas BMKG dalam keterangannya.