IHSG Berbalik Melemah ke Zona Merah pada Senin Pagi
Fluktuasi tajam melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia pada Senin (13/7/2026) pagi setelah sempat menguat ke level 5.934,72 lalu berbalik melemah ke zona merah akibat sikap hati-hati investor menanti kepastian data ekonomi global.
Berdasarkan data internal pasar modal, indeks domestik awalnya bergerak naik 10,36 poin atau setara 0,17 persen, namun segera berbalik arah seiring aksi wait and see pelaku pasar terhadap rilis inflasi Amerika Serikat dan testimoni Gubernur The Fed Kevin Warsh.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa indeks domestik masih memiliki peluang pemulihan teknikal jika mampu menjaga level psikologisnya.
“Selama IHSG mampu bertahan di atas area 5.900-5.882, peluang melanjutkan technical rebound masih terbuka dengan target menguji 5.948-6.000, kemudian 6.100-6.220 apabila berhasil menembus batas atas channel. Sebaliknya, apabila kembali turun di bawah 5.900, IHSG berisiko Kembali menguji support di 5.839-5.805,” ujar Liza Camelia Suryanata.
Pergerakan pasar global juga dipengaruhi oleh pergerakan komoditas energi serta meredanya kekhawatiran inflasi dari ketegangan Timur Tengah.
“Meredanya harga minyak membantu menenangkan kekhawatiran pasar terhadap risiko inflasi akibat konflik di kawasan Timur Tengah,” ujar Liza Camelia Suryanata.
Di sisi lain, Liza turut menyoroti penurunan realisasi restitusi pajak dalam negeri sebesar 31,5 persen yoy menjadi Rp171,2 triliun pada semester I-2026 yang dapat memengaruhi dunia usaha.
“Meskipun mendukung likuiditas fiskal dalam jangka pendek, kebijakan ini berpotensi menekan likuiditas dunia usaha dan meningkatkan kewajiban pembayaran pemerintah pada periode berikutnya apabila pencairan terus tertunda,” ujar Liza Camelia Suryanata.
Kementerian Keuangan dilaporkan menaikkan outlook pembiayaan APBN 2026 menjadi Rp734,3 triliun dari pagu awal Rp689,1 triliun dengan realisasi semester pertama mencapai Rp452 triliun. Langkah ini merupakan bagian dari strategi front loading guna menghadapi ketidakpastian pasar global pada awal tahun.