Amerika Serikat dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali pecah di kawasan strategis Timur Tengah. Ketegangan terbaru ini dilansir dari Detikcom, yang melaporkan adanya aksi saling serang hingga berdampak ke sejumlah negara di kawasan Teluk.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa tindakan militer ini diambil sebagai respons atas serangan terhadap kapal kontainer yang melintasi Selat Hormuz. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) berdalih pihaknya hanya melepaskan tembakan peringatan kepada kapal yang diduga menggunakan jalur tidak resmi.
Dampak dari baku tembak ini menyebabkan sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz mengalami kebakaran serius. Peristiwa tersebut juga mengancam keselamatan warga sipil dan merusak stabilitas keamanan di sekitar perairan internasional tersebut.
Pihak militer AS meluncurkan serangan udara dan laut yang menyasar berbagai titik strategis di wilayah Iran. Target operasi tersebut mencakup lokasi penyimpanan rudal, pesawat tanpa awak (drone), hingga depot amunisi.
"Pasukan AS menghantam sekitar 140 target militer Iran dengan amunisi presisi yang diluncurkan oleh pesawat tempur berbasis darat dan laut, drone, dan kapal angkatan laut," kata Komando Pusat AS dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP, Aljazeera, dan CNN.
Gempuran ini menambah panjang daftar operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut. Dalam kurun waktu tiga malam, CENTCOM tercatat telah menyerang lebih dari 300 target berbeda.
"Selama tiga malam serangan minggu ini, CENTCOM telah menghantam lebih dari 300 target atas arahan Panglima Tertinggi untuk mengurangi kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat," sambungnya.
Balasan Iran di Kawasan Teluk
Iran segera merespons tindakan Washington dengan mengirimkan gelombang serangan rudal dan drone. Teheran membidik sejumlah pangkalan serta fasilitas militer milik Amerika Serikat yang berada di negara-negara tetangga.
Laporan dari otoritas setempat serta jurnalis lapangan menunjukkan bahwa sirene tanda bahaya dan suara ledakan terdengar di Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain. Situasi ini mengancam kesepakatan sementara yang sebelumnya dibuat oleh Washington dan Teheran.
Media lokal Iran mengonfirmasi adanya ledakan di wilayah Bandar Abbas, Sirik, Jask, Pulau Qeshm, hingga Provinsi Khuzestan yang berbatasan langsung dengan Irak. Meski demikian, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa dari pihak Iran.
Tidak lama setelah itu, sistem pertahanan udara di UEA dan Qatar dilaporkan berhasil mencegat beberapa serangan rudal. Sementara itu, militer Iran mengklaim telah mengarahkan drone peledak ke pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain untuk merusak sistem radar serta pertahanan Patriot.
Gempuran ke Yordania dan Oman
Fasilitas militer Amerika Serikat di luar kawasan Teluk juga tidak luput dari serangan balasan IRGC. Pasukan udara Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke pangkalan udara Pangeran Hassan yang terletak di Yordania.
Melalui siaran stasiun televisi negara IRIB, IRGC menyatakan bahwa operasi tersebut berhasil menghancurkan pusat kendali taktis serta hanggar drone MQ-9 milik AS. Selain Yordania, wilayah Oman juga menjadi sasaran operasi logistik Iran.
IRGC mengklaim telah menjalankan serangan mendadak ke pusat dukungan logistik dan platform pengisian bahan bakar kapal induk AS di Pelabuhan Duqm, Oman. Pihak humas IRGC menyebut aksi di Oman ini sebagai fase ketiga dari rangkaian respons mereka.
Warga Negara India Turut Terdampak
Kementerian Luar Negeri India melaporkan bahwa terdapat 11 warga negaranya yang berada di dalam kapal komersial GFS Galaxy saat terjebak di tengah pertempuran. Kapal tersebut sedang melintas di perairan timur Oman ketika situasi memanas.
"Dari 11 warga negara India di atas kapal, 10 telah diselamatkan sejauh ini, sementara satu warga negara India dilaporkan hilang," kata Kementerian Luar Negeri India dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP.
CENTCOM menyebut kapal komersial tersebut mengalami kerusakan parah pada ruang mesin akibat kebakaran dan menuduh Teheran sebagai pelakunya. India mendesak agar segala bentuk penargetan terhadap jalur pelayaran komersial sipil segera dihentikan demi hukum internasional.
"Penargetan pelayaran komersial dan infrastruktur sipil di kawasan itu harus diakhiri," katanya.
Kecaman dari Negara-Negara Arab
Aksi militer yang merambah ke berbagai wilayah kedaulatan negara lain memicu reaksi keras dari pemerintah di kawasan Teluk. Kuwait, Oman, dan Qatar secara bergantian menyampaikan protes resmi atas serangan yang masuk ke teritorial mereka.
"Berlanjutnya serangan ini merupakan eskalasi yang sangat berbahaya yang akan memperburuk ketegangan dan ketidakstabilan di kawasan tersebut," kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan, dilansir Aljazeera.
Pemerintah Kuwait menegaskan bahwa serangan tersebut merusak upaya diplomatik yang sedang berjalan untuk meredakan krisis secara damai. Kuwait juga menyatakan kesiapannya untuk mengambil tindakan hukum demi melindungi kedaulatan wilayahnya.
Kecaman serupa datang dari Oman, yang baru saja menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Iran untuk membahas keamanan Selat Hormuz beberapa jam sebelum serangan terjadi. Melalui media sosial X, Kantor Berita Oman menegaskan penolakan total atas pelanggaran wilayah tersebut. Qatar dan beberapa negara lain seperti Arab Saudi serta Mesir ikut mengutuk eskalasi militer ini.