Wisatawan Amerika Serikat Mulai Geser Waktu Liburan ke Eropa
Tren perjalanan liburan warga Amerika Serikat menuju Eropa kini mengalami perubahan signifikan. Wisatawan yang sebelumnya memadati benua biru pada musim panas, kini beralih memilih periode shoulder season atau masa di antara musim ramai dan sepi, seperti dilansir dari Detik Travel.
Pergeseran ini dipicu oleh lonjakan suhu ekstrem selama musim panas, situasi destinasi yang terlalu padat, serta tingginya tarif akomodasi dan tiket pesawat. Lonjakan permintaan pada periode transisi ini mendorong industri penerbangan memperpanjang masa operasional rute internasional mereka.
Sejumlah maskapai besar asal Amerika Serikat kini menjadwalkan rute penerbangan ke Eropa dengan durasi yang lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Strategi tersebut diambil guna menjaga pendapatan dari konsumen berdaya beli tinggi di tengah tekanan biaya operasional akibat kenaikan harga bahan bakar.
Presiden Delta Air Lines, Peter Carter, menjelaskan bahwa pembagian pola perjalanan internasional sekarang tidak lagi sekadar berpatokan pada musim tertentu saja.
"Masih banyak destinasi di Eropa yang bisa dinikmati sepanjang tahun. Karena itu kami melihat permintaan perjalanan ke Eropa tetap kuat meski di luar musim panas," ujarnya.
Pandangan senada disampaikan oleh Senior Vice President Network Planning United Airlines, Patrick Quayle, yang menilai batas antara musim puncak kunjungan dan periode shoulder season kini semakin menyatu.
"Periode shoulder season kini semakin panjang dan mulai menyatu dengan musim ramai," kata Quayle.
Fenomena ini mengubah manajemen operasional maskapai, seperti Delta yang mengalihkan perawatan armada ke musim panas agar siap beroperasi penuh pada musim gugur yang kini tinggi peminat. Meskipun harga tiket pulang-pergi kelas bisnis ke beberapa rute menembus angka US$10.000, tren kenaikan tarif secara umum dilaporkan mulai melambat.
Data dari platform Kayak menunjukkan tiket pulang-pergi rute Amerika Serikat-Athena pada 22 Juni tercatat sebesar US$988. Angka ini meningkat dari tahun lalu yang sebesar US$810, namun sudah menurun jika dibandingkan dua bulan sebelumnya yang mencapai US$1.350.
Faktor alam seperti cuaca ekstrem di Eropa turut mendasari keputusan wisatawan, menyusul rekor suhu tertinggi yang sempat melanda beberapa kota pada akhir Juni. Kondisi ini memicu langkah darurat seperti pembuatan stasiun pendingin di Warsawa dan Roma, serta protes warga lokal terkait kepadatan turis di Barcelona dan Venesia.
Selain faktor cuaca, fleksibilitas sistem kerja jarak jauh bagi pekerja muda dan kebebasan waktu kelompok pensiunan Baby Boomers ikut memperkuat tren ini. Kawasan seperti Sisilia yang dahulu sangat identik dengan liburan musim panas kini mulai diincar maskapai untuk penerbangan musim gugur dan awal musim dingin karena harga hotel lebih murah.
Menurut Quayle, keputusan memperpanjang rute ke destinasi seperti Sisilia merupakan langkah bisnis yang memiliki risiko rendah.
"Saya justru melihatnya sebagai langkah yang cukup aman," ujarnya.
Meskipun beberapa penginapan di tepi pantai memilih tutup saat musim dingin, volume kunjungan turis Amerika tetap melonjak pada Maret, April, Oktober, dan November. General Manager Four Seasons San Domenico Palace di Taormina, Imelda Shllaku, mengonfirmasi adanya pertumbuhan pemesanan dari turis Amerika Serikat pada bulan-bulan tersebut selama empat tahun terakhir.
Pendiri Cranky Flier, Brett Snyder, berpendapat bahwa maskapai penerbangan memang harus mengoptimalkan penggunaan pesawat berbadan lebar sepanjang tahun demi menutup nilai investasi armada yang besar.
"Jika sebelumnya pesawat-pesawat itu hanya penuh selama musim panas, kini maskapai memiliki peluang memperpanjang masa operasinya hingga shoulder season," ujarnya.
Presiden sekaligus CFO Alaska Airlines, Shane Tackett, menambahkan bahwa fleksibilitas waktu bepergian masyarakat kini semakin tinggi. Beberapa orang tua bahkan bersedia membawa anak-anak mereka melakukan perjalanan di luar masa libur sekolah demi memberikan nilai edukasi langsung.
Sementara itu, pihak American Airlines mencatat bahwa Oktober telah bertransformasi menjadi salah satu periode dengan volume permintaan tertinggi untuk rute Eropa. Namun, pihak manajemen maskapai menegaskan bahwa tingkat permintaan terendah sepanjang tahun tetap terjadi pada Januari dan Februari.