Donald Trump Perintahkan Serangan Udara Baru AS ke Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan gelombang serangan udara baru terhadap wilayah Iran pada Kamis, 9 Juli 2026, sebagai aksi balasan atas pemboman kapal komersial di kawasan Selat Hormuz sehari sebelumnya.
Gelombang serangan terbaru militer Amerika Serikat ini memicu ledakan beruntun di sepanjang pantai selatan Iran, sebagaimana dilansir dari Detikcom yang mengutip laporan media pemerintah Iran, AFP, dan IRNA. Rentetan suara pesawat tempur dan ledakan dilaporkan mengguncang wilayah Pulau Kish, Bandar Abbas, Konarak, hingga Chabahar, yang turut mengakibatkan terputusnya aliran listrik di sebagian area tersebut.
Donald Trump menegaskan aksi militer ini merupakan respons langsung terhadap tindakan provokasi Teheran di jalur pelayaran internasional.
"Ini sebagai pembalasan atas pemboman kapal kemarin oleh Iran," kata Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social. "Jika itu terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!"
Sebelum memberikan perintah serangan udara, Presiden Amerika Serikat tersebut mengindikasikan bahwa masa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Situasi tersebut mendorong para mediator dari Qatar, Pakistan, dan PBB mendesak dilakukannya penurunan eskalasi konflik secara cepat.
Saat menghadiri pertemuan tingkat tinggi bersama para pemimpin internasional, Donald Trump kembali memberikan pernyataan tegas mengenai keputusannya.
"Kita akan menyerang mereka dengan keras malam ini," kata Trump pada KTT NATO di Ankara. "Mereka melanggar perjanjian setiap hari."
Kendati menunjukkan sikap agresif melalui instruksi serangan baru, ia juga memberikan sinyal bahwa ketegangan militer ini tidak akan berlangsung lama.
"apa pun yang terjadi akan segera berakhir." kata Trump kemudian.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) merilis pernyataan resmi mengenai tujuan strategis dari operasi militer di wilayah pesisir Iran tersebut. CENTCOM menyatakan operasi ini ditargetkan untuk melumpuhkan kekuatan militer Iran yang mengancam jalur perdagangan laut.
"Amerika Serikat meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi yang tidak beralasan baru-baru ini terhadap pelayaran komersial," kata CENTCOM pada X.
Berdasarkan data operasional, wilayah Selat Hormuz memegang peran krusial karena menjadi jalur distribusi bagi seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair global. Ketegangan geopolitik di wilayah ini kian memuncak sejak akhir Februari setelah serangan udara terpisah menewaskan Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, yang dijadwalkan dimakamkan di Mashhad.
Pemerintah Iran kemudian merespons dengan memperketat kontrol selat, mengancam kapal luar, serta menyerang tiga kapal komersial. Dampak langsung dari pengumuman berakhirnya gencatan senjata dan serangan susulan ini memicu gejolak ekonomi global, di mana harga minyak mentah langsung melonjak sebesar delapan persen.