Super El Nino Ancam Picu Rekor Suhu Global Baru

Share

Fenomena cuaca ekstrem Super El Nino yang didorong oleh lonjakan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik diprediksi bakal memicu rekor kenaikan suhu global baru hingga musim panas tahun 2027.

Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) merilis data pada 21 Mei 2026 yang menunjukkan adanya peluang sebesar 82 persen bahwa El Nino akan muncul di antara bulan Mei hingga Juli 2026.

Lembaga tersebut juga menyatakan terdapat probabilitas sebesar 96 persen bahwa fenomena ini akan bertahan dari Desember hingga Februari 2027, dengan potensi puncak intensitas pada musim gugur atau musim dingin.

Menurut laporan NOAA melalui Associated Press, dampak El Nino kali ini diproyeksikan menurunkan aktivitas badai di Samudra Atlantik hingga di bawah rata-rata dengan peluang sebesar 55 persen.

Pihak berwenang memperkirakan hanya akan terjadi 8 hingga 14 badai bernama, di mana 3 sampai 6 di antaranya berpotensi menjadi badai besar, lebih rendah dari kondisi normal yang biasanya mencapai 14 badai bernama.

Ahli meteorologi senior NBC News, Kathryn Prociv memberikan analisis mengenai ancaman cuaca ekstrem yang dapat dipicu oleh pemanasan suhu bumi yang masif ini.

"That’s why we start to get worried because a warmer globe means extreme weather events," kata Kathryn Prociv, Pakar Meteorologi Senior NBC News kepada TODAY.com.

"That can influence hurricanes, heat waves, potential flood patterns and more," ujar Kathryn Prociv berkaitan dengan dampak berantai dari kenaikan suhu tersebut.

Ia menambahkan bahwa wilayah Pantai Barat dan Hawaii kini menghadapi alarm kewaspadaan tinggi akibat peningkatan keaktifan musim badai di Pasifik, berkaca pada dampak Badai Hilary yang sempat memicu banjir rekor di wilayah yang biasanya kering.

"It usually means a more active Pacific hurricane season," ucap Kathryn Prociv mengenai pola historis pergerakan badai di kawasan Pasifik.

"Alarm bells are going off already for Hawaii," tutur Kathryn Prociv menegaskan situasi darurat di kepulauan tersebut.

Kerusakan parah akibat anomali cuaca ini diperkirakan tidak hanya berfokus pada kuantitas badai, melainkan pada tingkat intensitas hantaman yang dihasilkan pada wilayah terdampak.

"It didn’t make landfall in California, but it did cause all the record-setting flooding and tropical moisture in areas that don’t typically see that amount of rain in a year," kata Kathryn Prociv mengenang dampak kehancuran badai sebelumnya.

"The summer heat waves will be likely extreme and connected or not to El Niño with rising global temperatures," ujar Kathryn Prociv memproyeksikan ancaman gelombang panas ekstrem pada musim panas.

Dampak El Nino juga diketahui mengaktifkan arus jet subtropis yang berfungsi layaknya jalur cepat bagi badai, sehingga separuh wilayah selatan Amerika Serikat diprediksi akan menjadi jauh lebih berbadai.

"Another pattern recognition from previous El Niños is a stormier southern half of the U.S.," tutur Kathryn Prociv menjelaskan pengenalan pola cuaca dari fenomena terdahulu.

"The subtropical jet stream is like a storm highway, and (El Niño) really energizes it and gets it going," ucap Kathryn Prociv menjabarkan mekanisme atmosfer yang terjadi.

Wilayah Florida secara klimatologis mencatat adanya peningkatan badai dan cuaca buruk yang signifikan setiap kali siklus El Nino ekstrem ini aktif kembali.

"For Florida, it is in the climatological record that you tend to see more storms and severe weather during El Niño years," kata Kathryn Prociv menutup penjelasannya mengenai pola cuaca di wilayah selatan.

Presenter cuaca TODAY, Al Roker turut menyampaikan proyeksi senada mengenai potensi kekuatan El Nino tahun ini berdasarkan akumulasi data pemantauan atmosfer terbaru.

"Anything is possible, but you look at all the data, and it looks like it’s going to be one of the strongest El Niños on record," kata Al Roker, Presenter Cuaca TODAY.

"The biggest impact will probably be temperature. Either this year or next year, there could be a global temperature record. What that means for the U.S., it’s still a little early to tell," ujar Al Roker mengenai ketidakpastian dampak spesifik regional meskipun ancaman suhu global sudah nyata.

Meskipun aktivitas badai di Atlantik diprediksi menurun, Al Roker mengingatkan berkaca pada Badai Idalia kategori 3 yang tetap mendatangkan bencana katastropik di Florida pada periode El Nino sebelumnya.

"I think for those of us along the East Coast, (El Niño) looks like it means a below-average hurricane season," ucap Al Roker menganalisis situasi di Pantai Timur.

"The last time we only had Hurricane Idalia, but it was a heck of a hurricane. You only need one to be catastrophic," tutur Al Roker mengingatkan dampak masif dari satu badai tunggal.

Curah hujan tinggi diprediksi akan tetap mendominasi wilayah Florida dan Pantai Teluk saat memasuki periode musim gugur dan musim dingin.

"It probably looks really wet for Florida and the Gulf Coast as you go into the fall and winter," kata Al Roker mengenai akhir dari rangkaian prediksi cuaca ekstrem tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author