Fenomena El Nino Berpotensi Mengacaukan Pola Musim Monsun Global
Fenomena cuaca El Nino kuat yang sedang berkembang di Samudra Pasifik diprediksi mengacaukan pola curah hujan monsun global mulai awal Juni 2026. Perubahan atmosfer ini berpotensi memicu cuaca ekstrem berupa kekeringan parah sekaligus lonjakan intensitas hujan lebat di berbagai belahan dunia.
Pakar iklim menjelaskan bahwa El Nino terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik ekuator tengah dan timur. Kondisi ini menarik curah hujan menjauhi wilayah daratan tradisional seperti India, Indonesia, dan Australia, yang biasanya mengandalkan musim monsun untuk pasokan air utama.
Chief of the operational prediction branch NOAA Climate Prediction Center, Jon Gottschalck memaparkan bahwa kondisi cuaca pada musim dingin dan musim semi sebelumnya memegang peran krusial terhadap kekuatan monsun tahun ini. Fenomena di Pasifik tersebut berpotensi membawa kerawanan pangan, kekeringan, dan kebakaran di wilayah yang seharusnya mulai memasuki musim hujan.
"What happened in the winter and into the spring is actually just as important—if not more important—than the monsoon season itself," kata Jon Gottschalck.
Ketiadaan salju akibat musim dingin yang kering di wilayah Barat Daya Amerika Serikat justru dapat mempercepat pemanasan daratan secara intensif. Menurutnya, percepatan suhu panas daratan ini berpotensi memicu sirkulasi monsun yang sangat kuat dan membawa hujan berbahaya ke wilayah tersebut.
"Since it was so dry and there’s no snow, the land is likely going to be heating up quicker, more intensely," ujar Jon Gottschalck.
Sirkulasi monsun yang tidak menentu ini kemudian menyulitkan sektor manajemen sumber daya air dan pertanian global. Petani menghadapi ketidakpastian besar karena tanaman bisa mati kekeringan atau justru hanyut akibat banjir bandang di awal musim.
"And that could mean very strong monsoon circulation potential." kata Jon Gottschalck.
Dampak El Nino juga diproyeksikan meluas ke wilayah garis lintang tinggi, meskipun wilayah tropis akan merasakan dampaknya jauh lebih cepat. Gottschalck menegaskan bahwa tanda-tanda kerugian akibat gangguan cuaca ini sudah mulai terlihat di zona monsun tropis.
"If you have rainfall that you can expect to continue over the whole season, all your options remain open," tutur Jon Gottschalck.
Sektor pertanian global tercatat pernah mengalami kegagalan panen terbesar dalam sejarah modern akibat monsun lemah yang dipicu oleh El Nino pada tahun 1983. Ketidakpastian cuaca tahun ini diperkirakan kembali mengancam stabilitas pangan masyarakat global.
"when there’s a more erratic monsoon, it really increases a tremendous uncertainty in the water resource and agricultural management." ucap Jon Gottschalck.
Selain risiko pangan, cuaca panas dan kering ekstrem berpotensi memicu gelombang panas serta kebakaran hutan yang mengancam kesehatan. NOAA memprediksi wilayah tropis akan menghadapi periode yang sangat berat sepanjang tahun ini.
"It’s going to be a very rough period," kata Jon Gottschalck.
Kerugian ekonomi akibat bencana ini diproyeksikan sangat besar bagi negara-negara terdampak. Dampak negatif diperkirakan mendominasi wilayah-wilayah monsun tropis di seluruh penjuru bumi.
"Right now it looks like there will be considerable negative impacts in many of the tropical monsoon regions across the globe." ujar Jon Gottschalck.
Sementara itu, Assistant Professor dari City College of New York, Spencer A. Hill menyatakan bahwa pemanasan air laut di Pasifik secara otomatis mengubah pola atmosfer bumi. Massa hujan bergeser menjauh dari daratan menuju ke area samudra yang menghangat tersebut.
"Way too much rainfall could be devastating," cetus Spencer A. Hill.
Penelitian Hill menunjukkan terjadinya paradoks curah hujan di India selama periode El Nino, di mana total volume hujan musiman menurun namun kasus hujan ekstrem harian justru meningkat tajam. Curah hujan masif dalam waktu singkat di atas tanah kering yang rapuh berisiko tinggi memicu tanah longsor dan banjir bandang.