Mengenal Orong-orong Serangga Tanah yang Sering Masuk Rumah
Orong-orong atau jangkring tanah merupakan jenis serangga yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di bawah permukaan tanah. Hewan dari famili Gryllotalpidae ini juga populer dengan sebutan anjing tanah di beberapa daerah. Dikutip dari Detikcom melalui Britannica, serangga ini dicirikan oleh bentuk tubuh silindris menyerupai tabung.
Mereka juga dilengkapi dengan kepala runcing serta lapisan bulu-bulu halus pada tubuhnya. Di area pertanian atau perkebunan, kehadiran orong-orong sering kali dikategorikan sebagai hama. Status tersebut disematkan karena kebiasaan mereka memakan rumput, tanaman sayur, akar-akaran, pucuk tanaman, hingga pakan ternak.
Secara alami, jangkrik tanah beraktivitas membuat terowongan dengan menggali tanah hingga kedalaman 15 sampai 20 centimeter. Walau habitat utamanya di dalam tanah, serangga ini mempunyai sayap yang memungkinkannya terbang pada waktu malam.
Berdasarkan informasi dari University of Florida, jenis serangga ini jamak dijumpai di halaman rumah, ladang rumput, lapangan golf, hingga area penggembalaan. Kondisi lingkungan tersebut yang memicu hewan ini kerap menyusup ke area tempat tinggal manusia. Ada dua faktor utama yang membuat jangkrik tanah bergerak masuk ke dalam rumah. Pertama, perpindahan terjadi saat habitat bawah tanah mereka terendam air akibat curah hujan, sehingga mereka mencari tempat yang kering.
Faktor kedua dipicu oleh sifat fototaksis positif mereka. Orong-orong cenderung tertarik mendekati sumber cahaya lampu yang terang benderang di dalam rumah pada malam hari.
Tingkat Bahaya bagi Manusia
Meskipun keberadaannya kerap mengganggu kenyamanan dan merusak tanaman, orong-orong tidak membawa ancaman fatal bagi manusia. Laporan dari WebMD menyatakan bahwa para pakar mengonfirmasi serangga ini tidak memiliki sengat. Kendati demikian, beberapa laporan menunjukkan hewan ini dapat menggigit apabila dalam posisi terpegang.
Oleh sebab itu, masyarakat disarankan untuk menghindari kontak langsung atau memegangnya dengan tangan kosong saat menemukannya. Bagi kalangan petani, tantangan utama dari jangkrik tanah adalah kemampuan reproduksinya yang tinggi. Hewan ini diketahui sanggup meletakkan puluhan butir telur di dalam tanah.
Guna meminimalkan kerusakan, sektor pertanian biasanya menerapkan metode pengendalian alami. Salah satunya dengan menanam varietas rumput yang memiliki toleransi tinggi terhadap aktivitas jangkrik tanah.
Di dalam ekosistem liar, populasi serangga ini dikendalikan oleh keberadaan predator alami. Beberapa hewan pemburu orong-orong di antaranya meliputi burung, tikus, hingga ayam.
Jenis-jenis Jangkrik Tanah
Terdapat beberapa variasi spesies orong-orong yang memiliki karakteristik serta dampak berbeda terhadap lingkungan di sekitarnya.
Jangkrik Tanah Cokelat (Neoscapteriscus vicinus)
Spesies ini menjadi ancaman utama bagi pemilik halaman rumah dan pengelola lapangan golf. Mereka merusak vegetasi dengan mengonsumsi tunas serta akar rumput sekaligus merusak struktur tanah melalui pembuatan terowongan.
Jenis ini awalnya bermigrasi dari kawasan Amerika Selatan dan teridentifikasi masuk ke wilayah Amerika Serikat pada akhir periode 1800-an melalui jalur transportasi kapal. Spesies ini kemudian berkembang biak subur di wilayah pesisir berpasir bagian tenggara.
Jangkrik Tanah Selatan (Neoscapteriscus borellii)
Spesies jangkrik tanah selatan masuk ke wilayah Amerika pada periode waktu yang berdekatan dengan jenis cokelat. Berbeda dengan kerabatnya, jenis ini sebenarnya tidak mengonsumsi rumput sebagai makanan utama.
Akan tetapi, aktivitas mereka dalam membangun jaringan terowongan di bawah tanah tetap berpotensi memicu kerusakan struktural yang masif pada hamparan rumput halaman.
Jangkrik Tanah Bersayap Pendek (Neoscapteriscus abbreviatus)
Spesies orong-orong yang satu ini memiliki keterbatasan fisik tidak dapat terbang akibat ukuran sayapnya yang pendek. Karakteristik visualnya ditandai dengan warna tubuh cokelat muda atau keputihan yang disertai corak bintik-bintik gelap.