BNPB Siagakan 30 Helikopter Tambahan Tangani Karhutla Kalimantan

Share

Peningkatan titik panas dan sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan membuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperketat penanganan darat dan udara pada Minggu (23/8/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Langkah percepatan pengendalian Karhutla ini direalisasikan melalui intensifikasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), penambahan personel, hingga pengerahan armada udara tambahan demi memadamkan kebakaran yang merebak dalam sepekan terakhir.

"Penguatan penanganan Karhutla juga dilakukan melalui penambahan armada udara. BNPB saat ini menyiagakan 30 unit helikopter untuk mendukung operasi water bombing dan patroli udara di wilayah Kalimantan. Sementara itu, sebanyak 22 unit helikopter disiagakan untuk mendukung penanganan Karhutla di wilayah Sumatra," kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Minggu (23/8/2026).

Suharyanto menjelaskan bahwa penambahan armada udara masih memungkinkannya disesuaikan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto serta hasil koordinasi Kemenhan. Di jalur darat, pemerintah mendistribusikan Alat Pelindung Diri (APD), pompa air bertekanan tinggi, hingga alokasi 100 unit mobil tangki air per provinsi.

"Penguatan ini ditujukan untuk memastikan proses pemadaman di darat dapat berjalan lebih efektif. Pemerintah juga mengalokasikan dukungan berupa mobil tangki air hingga 100 unit untuk setiap provinsi sesuai kebutuhan. Armada tersebut akan memperkuat distribusi air bagi operasi pemadaman darat di wilayah kabupaten dan kota yang terdampak Karhutla," jelas Suharyanto.

Suharyanto menambahkan bahwa perintah penanganan cepat datang langsung dari pimpinan tertinggi guna menjamin seluruh kebutuhan operasional tim gabungan di lapangan terpenuhi tanpa penundaan.

"Presiden memberikan perhatian penuh dan menginstruksikan agar kebutuhan operasional di lapangan dipenuhi. Jadi bukan hanya pemadaman dari udara, tetapi juga penguatan satgas darat, peralatan, pompa, mobil tangki, dan seluruh kebutuhan yang diperlukan untuk mempercepat pengendalian Karhutla," jelas Suharyanto.

Peningkatan lonjakan titik panas terdeteksi utamanya di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan akibat minimnya curah hujan alami. Penanganan di wilayah tersebut memerlukan perlakuan khusus mengingat karakteristik dominan tanah gambut.

"Kondisi Karhutla di Kalimantan memiliki karakteristik yang berbeda karena banyak terjadi di lahan gambut. Permukaan lahan yang terlihat sudah padam belum tentu bara di bawahnya benar-benar mati. Karena itu, hujan dengan intensitas yang cukup menjadi salah satu faktor penting untuk membantu membasahi kembali lahan gambut dan memadamkan bara yang masih tersimpan," ujar Suharyanto.

Menanggapi tantangan tersebut, OMC diprioritaskan kembali lewat kerja sama teknis bersama BMKG per Minggu (23/8/2026) setelah mengevaluasi ketersediaan awan penyemaian garam.

"OMC menjadi salah satu prioritas kita. Hari ini sudah bisa kembali dilaksanakan secara intensif berdasarkan kondisi awan yang tersedia. Kita berharap hujan dapat segera turun di wilayah-wilayah yang membutuhkan sehingga membantu proses pemadaman di lapangan," kata Suharyanto.

Dampak kepekatan asap sempat menyelimuti ruang udara di Banjarbaru, Palangka Raya, dan Pontianak pada rentang pukul 08.00 hingga 10.00 waktu setempat, namun berangsur membaik saat siang hari. Hasil pantauan lalu lintas udara mengonfirmasi operasional penerbangan di Bandara Syamsudin Noor, Bandara Supadio, dan Bandara Tjilik Riwut tetap aman beroperasi sesuai jadwal.

BNPB juga menggandeng Kementerian Kesehatan guna memperkuat Posko Kesehatan Terpadu bagi kelompok rentan. Sementara itu, pemantauan ketat terus diarahkan pada potensi kabut asap lintas batas (cross-border haze).

"Untuk Sumatra saat ini relatif lebih terkendali karena hujan masih bisa didatangkan. Sementara untuk Kalimantan, kita terus memperkuat armada darat, menambah helikopter, dan OMC mulai berjalan kembali hari ini. Dengan seluruh upaya tersebut, kami optimistis Karhutla di Kalimantan dapat segera kita kendalikan bersama," kata Suharyanto.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author