Inayah Wahid Debut Akting dalam Film Foufo Karya Bayu Skak

Share

Putri bungsu Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Inayah Wahid, menandai langkah pertamanya di industri perfilman tanah air dengan membintangi film baru bertajuk Foufo karya sutradara Bayu Skak. Informasi mengenai debut layar lebar ini disampaikan dalam sesi konferensi pers yang digelar di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat (3/7/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Saat pertama kali menerima tawaran dari Skak Studios, Inayah Wahid mengaku sempat terkejut karena proses pemberian naskah yang diterimanya tergolong tidak biasa dibandingkan dengan produksi teater yang biasa ia jalani.

"Ini saya baru pertama kali, sebenarnya saya senang banget ya. Jadi baru pertama kali menerima skrip itu gak dalam bentuk skrip. Jadi cuma potongan adegan saya saja. Itu pun gak ada kalau misalnya film itu dialog itu lengkap gitu, beneran cuma dialog saya saja," kata Inayah Wahid dalam konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (3/7/2026).

Keterbatasan informasi mengenai keseluruhan jalan cerita di awal keterlibatannya sempat membuat Inayah Wahid dilanda kebingungan. Ia bahkan sempat tidak mengetahui cara melafalkan judul film tersebut dengan benar saat pertama kali diminta bergabung oleh tim produksi.

"Saya itu syuting datang itu bahkan nggak tahu ini cara ngucapin judulnya tuh gimana. Tadinya saya sama tim itu berkeyakinan UFO-UFO siapa ya. Beneran gak tahu," kenangnya.

Meski demikian, keputusan untuk menerima pinangan Bayu Skak didasari oleh alasan kuat terkait visi film tersebut. Inayah Wahid menilai langkah mengangkat identitas bahasa daerah, khususnya bahasa Madura dan dialek Jawa Timur, merupakan sebuah gerakan budaya yang patut mendapatkan dukungan penuh.

"Yang bikin saya mau karena Mas Bayu waktu itu ngomongnya ini bakalan jadi film dengan bahasa daerah pertama di layar lebar, bahasa Madura pertama, dan saya di situ sebagai tokoh orang Surabaya. Jadi saya benar-benar merasa ini sesuatu yang patut diapresiasi banget," terangnya.

Penggunaan bahasa daerah yang otentik di industri perfilman nasional juga dinilai penting oleh Inayah Wahid. Menurutnya, langkah ini dapat membantu mengikis stigma negatif yang selama ini kerap melekat pada suku bangsa tertentu, termasuk masyarakat Madura.

"Identitas itu tetap dimunculkan di hari ini. Apalagi tadi kalau katanya Tretan itu banyak banget orang melihat Madura itu stigmanya bla bla bla, nah ini memunculkan dalam bentuk yang beda," pungkasnya.

Film Foufo sendiri mengisahkan dinamika kehidupan warga Madura saat sebuah pesawat luar angkasa jatuh di pemukiman mereka. Sinema drama komedi ini dijadwalkan akan menyapa penonton di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 Juli mendatang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author